“Besok Lutfi mau jadi apa?”
Pertanyaan itu keluar dari lisan mulia sang Muassis Ma’had Darullughah Wadda’wah, Abuya Hasan Baharun. Seorang santri muda bernama Lutfi hanya menunduk dan menjawab dengan polos, tanpa beban,
“Saya ingin jadi pedagang, Ustaz.”
Ia menjawab begitu, sebab ia tumbuh dari keluarga pedagang. Kedua orang tuanya mencari nafkah dari berdagang di rumah, dan Lutfi berpikir bahwa suatu hari, ia akan meneruskan perjuangan mereka.
Obrolan singkat itu pun berakhir, dan Lutfi dipersilakan untuk beristirahat. Namun, pertanyaan itu terus menggelayut dalam benaknya. Ia merenung dalam diam, meski akhirnya memilih untuk kembali larut dalam rutinitas kehidupan pondok seperti biasa.
Malam itu, selepas salat Isya, Lutfi duduk sendirian di pelataran masjid. Ia termenung, memandangi langit malam yang pekat, seolah tengah berbicara dengan hatinya sendiri.
Tanpa ia sadari, sebuah tangan menepuk pelan pundaknya. Lutfi menoleh. Ternyata, Abuya Hasan berdiri di sana, tersenyum ramah. Lutfi buru-buru berdiri untuk menunjukkan hormat, tetapi Abuya malah duduk di sampingnya, lalu berkata lembut:
“Lutfi, sini duduk.”
Lutfi pun menurut. Abuya memandangnya sejenak sebelum bertanya, “Kenapa dari tadi diam saja?”
Lutfi menghela napas. “Tadi lagi kangen orang tua, Ustaz.”
Abuya mengangguk pelan. “Kalau sedang rindu orang tua, jangan ragu bilang ke Ustaz. Semua santri di sini sudah Ustaz anggap seperti anak sendiri. Jadi, anggap Ustaz seperti bapakmu juga ya.”
Ada kehangatan yang begitu tulus dari setiap kata itu, dan Lutfi hanya bisa mengangguk sambil menahan perasaan yang mengaduk di dadanya.
“Iya, Abuya…”
Hening sesaat, lalu Abuya bertanya lagi, “Lutfi, ingin nggak jadi Ustaz suatu hari nanti?”
Lutfi terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Tidak, Ustaz. Saya ingin seperti orang tua saya, jadi pedagang.”
Abuya tersenyum, tak memaksa. Namun, kali ini ia bicara lebih dalam.
“Ustaz mau tanya sekali lagi, dan kali ini kamu harus jawab ‘mau’, ya.”
Lutfi mengangguk polos, tanpa tahu ke mana arah pertanyaan itu.
“Lutfi, mau nggak suatu hari nanti jadi Ustaz?”
Ada jeda, lalu bibir Lutfi terbuka.
“Mau, Ustaz.”
Senyum Abuya mengembang. Doa lirih pun terucap dari lisan beliau, penuh harap dan keberkahan. Setelah itu, Abuya menyuruh Lutfi untuk beristirahat agar esok tidak kesiangan bangun salat tahajud.
***
Tahun demi tahun terajut sempurna. Waktu menenun kenangan menjadi lembaran kehidupan yang tak terlupa. Lutfi menamatkan masa mondoknya di Ma’had Darullughah Wadda’wah dengan hasil terbaik pada tahun 2001.
Kini, ia telah menjadi seorang Ustaz. Tak hanya mengajar di tempat ia pernah nyantri, tapi juga di kampung halamannya, di daerah Malang.
Suatu malam, seusai mengajar para santri, Lutfi kembali ke kamar khusus yang disediakan untuk para pengajar. Saat membuka pintu dan meletakkan kitab, bayangan masa lalu tiba-tiba datang menghampiri. Kenangan saat Abuya menanyakan cita-citanya dulu kembali terputar seperti film dalam kepalanya.
Ia kini telah menjadi seperti yang Abuya doakan. Doa yang sederhana, namun penuh kekuatan. Dan tanpa sadar, setitik air mata mengalir tanpa permisi. Cita-cita yang dulu tak ia sadari, kini menjadi jalan hidupnya. Di balik setiap cita, selalu ada doa yang diam-diam mengetuk langit, dan terkadang, itulah yang paling menentukan jalan takdir seseorang.
Tim Redaksi Multaqo
Comments