Para santri Ponpes Darullughah Wadda’wah tentu mengenal dua kitab legendaris ini: Muhawarah dan Ashriyyah. Baik yang masih mondok maupun yang sudah menjadi alumni, pasti tidak asing dan bahkan sebagian dari mereka harus menghafal dan mempraktikkan isinya demi kelancaran berbicara dalam bahasa Arab.
Namun di balik dua kitab itu, tersimpan perjuangan dan ketulusan seorang murabbi, Abuya Hasan bin Ahmad Baharun. Beliau menulis dan menyebarkan keduanya bukan sekadar sebagai media belajar, melainkan sebagai bentuk cinta beliau terhadap syariat dan terhadap sang pengucao bahasa ini, Nabi Muhammad ﷺ.
Ketika masih mengajar di Yayasan Pondok Pesantren YAPI Bangil, Abuya Hasan sudah dikenal sangat disiplin dalam menggunakan bahasa Arab. Beliau tidak berbicara dengan bahasa lain kepada siapa pun. Bahkan saat pertama kali Ustaz Qoimuddin datang ke YAPI dan bertemu Abuya, beliau langsung diajak berbicara dengan bahasa Arab. Sejak saat itu pula, Ustaz Qoim diamanahi menjadi khottoth (penulis) bagi Abuya, salah satunya untuk kitab Majmu’atul Ashriyyah.
“Saya dekat dengan beliau itu, tanda yang mendekatkan ialah Majmu’atul Ashriyyah, karena saya yang menjadi khottoth-nya (penulisnya), dan sepertinya beliau mengarang itu nggak sengaja karena dijadikan tulisan maka diserahkan kepada saya lalu saya tulis. Dan di YAPI beliau hanya mengajar bahasa Arab,” ucap Ustaz Qoimuddin kepada Tim Redaksi Multaqo di rumahnya pada malam Senin (20/07/2025).
Pada awal tahun 1980-an, saat masih mengajar di YAPI, Abuya menyusun Kamus Ashriyyah. Luar biasanya, kamus ini disusun secara mubawwab (berbab), mencakup bab fi’il, bab isim, hingga bab murosalat (surat-menyurat), dan bab ashriyyah (kosakata kontemporer). Ini menunjukkan keluasan ilmu Abuya dalam bidang bahasa Arab pada masa itu.
Kitab selanjutnya adalah Muhawarah. Dalam pandangan Abuya, sekadar menghafal kosakata tidaklah cukup. Para santri harus belajar menyusun kalimat, berdialog, dan berlatih berbicara secara aktif. Maka, Ashriyyah memperkaya perbendaharaan kosakata, sedangkan Muhawarah mengajarkan bagaimana menggunakannya dalam percakapan nyata.
Uniknya, percakapan dalam Muhawarah bukan sekadar karangan, melainkan pengalaman-pengalaman pribadi Abuya sendiri.
“Kalau Muhawarah memang sepertinya berjalan dengan pengalaman, jadi yang terjadi langsung ditulis. Seperti masalah Bodrex, itu memang Bodrex sungguhan bukan ngarang itu, kemudian satu lagi Hemaviton ketika beliau masih di Jawa Tengah.”
“Ketika Abuya Hasan ikut salah satu haul yang ada di Jawa Tengah, waktu itu beliau sedang ta’ban (lelah), ada teman beliau Ustaz Munaji, lalu diminta tolong sama Abuya Hasan, ‘Ustadz, Hemaviton Ustadz!’ nyuruh Ustaz Munaji beli Hemaviton. Dan akhirnya masuk kitab Muhawarah,” ungkap Ustaz Qoim kepada kami.
Setelah dua kitab ini selesai, Abuya tak berhenti. Beliau mengajak murid-murid terdekatnya untuk turut menyebarkan bahasa Arab ke berbagai pesantren.
“Al-Faqir sama beliau (Abuya Hasan) dan Ustaz Zain, ketiga-tiga ini kemana-mana sudah kalau masuk bulan Ramadhan. Keliling ke pondok-pondok sampai ke Jawa Tengah untuk nasyrul ‘Arabiyah (menyebarkan bahasa Arab),” ungkap Ustaz Qoim sambil mengenang perjuangan beliau bersama Abuya.
Perjuangan ini tidak sia-sia. Berkat Abuya Hasan, kini banyak santri dan umat Islam yang bisa berbicara dalam bahasa Arab. Kitab-kitab beliau telah tersebar luas dan menjadi rujukan pembelajaran bahasa Arab di berbagai lembaga.
Selain itu, ada pula bisyaroh dari Abuya tentang Ashriyyah dan Muhawarah, sebagaimana disampaikan oleh Ustaz Hasan Bashri saat diwawancarai.
“Ana belajar kepada beliau dua kitab ini dan Abuya Hasan menyuruh ana untuk menghafal dan mempraktikkannya. Ada bisyaroh beliau yang masih ana ingat:
‘إِذَا حَفِظْتَ كِتَابِي هَذَا لَنْ تَمُوتَ مِنَ الجُوعِ’
‘Kalau kamu hafal kitab Muhawarah dan Ashriyyah ini, kamu tidak akan mati kelaparan’.
Apa maknanya? Baru ana paham sekarang,” ujar beliau sambil mengenang ucapan Abuya Hasan Baharun.
Kini, setelah mengetahui kisah di balik dua karya besar ini, siap kah Antum untuk ikut berjuang menyebarkan bahasa Arab? Jika cinta kepada Abuya Hasan adalah nyata, maka teruskanlah perjuangannya dan sebarkanlah, syukron.
Tim Redaksi Multaqo
Comments