Bangil, Dalwa Berita – Gema takbiran terdengar melangit. Pelaksanaan salat Iduladha menjadi salah satu momen spesial bagi para santri dan warga sekitar Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah. Saf salat juga diramaikan oleh para dewan pengajar dan keluarga besar ponpes yang berada dibarisan terdepan.
Seperti ditahun sebelum-sebelumnya, pelaksanaan salat Iduladha bertempat di lapangan utama Dalwa Pusat. Dengan perasaan hanyut dan khusyuk, salat Id diimami langsung oleh pengasuh Ponpes Dalwa, Abuya Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun.
Selepas salam kedua dari imam, sebagai penyempurna syarat dari pelaksanaan salat Id, khutbah disampaikan oleh Al-Habib Alwi Baharun, salah satu putra dari Assoc. Prof. Dr. Segaf Baharun, M.H.I.
HARI BUKAN SEKEDAR PENYEMBELIHAN HEWAN
Dalam isi khutbah yang disampaikan beliau, hari Id bukan hanya sebagai hari penyembelihan hewan kurban, tetapi juga hari yang Allah takdirkan untuk menyatukan rasa kebersamaan seluruh umat muslim; hari yang menjadi barometer kecintaan dan ketaatan umat muslim kepada Sang Pencipta.
DASAR KEIMANAN DAN KETAKWAAN
Menjadi sejarah pelajaran yang selalu diulang bagi umat Islam, hari Iduladha tidak lepas dari kisah spiritual Nabi Ibrahim a.s, dan putranya, Nabi Ismail a.s. Yang menjadi bukti tingginya ketakwaan dan kecintaan yang lebih dari seorang ayah yang rela mengorbankan anaknya demi menunaikan perintah tuhannya.
Beliau menukil dari tafsir Ibnu Katsir bahwa, demi memiliki seorang anak yang ia dambakan, Nabi Ibrahim harus bersabar menunggu selama delapan puluh tahun lamanya. Oleh karena itu, insan mana yang mampu merelakan anaknya untuk disembelih seusai puluhan lama penantian.
BENTUK KURBAN TERBESAR ZAMAN SEKARANG
Menurut dari penyampaian beliau, salah satu dari bentuk kurban adalah seorang ayah dan ibu yang merelakan anaknya untuk menempuh jalan hidupnya untuk belajar agama.
“Di zaman sekarag ini, bentuk kurban bukan hanya menyembelih hewan, bentuk kurban terbesar seorang ayah dan ibu adalah ketika ia rela berpisah dengan anak demi pendidikan agama,” ujar beliau.
WARISAN ORANG TUA BUKAN HANYA HARTA
Selain itu, beliau juga mengingatkan kepada orang tua anak-anak zaman sekarang yang bebas bebaur dengan teknologi. Fitnah digital menjadi satu alasan yang beliau dasarkan. Karena sebab kurangnya pelajaran agama yang didapatkan dari orang tua dan guru, anak akan menjadi hasil didikan dari kerasnya dunia.
Selain itu, dengan mengetahui urusan-urusan agama anak dapat menjadi ladang investasi akhirat bagi orang tua seusai dari kehidupan dunia. Sesuai dengan hadis nabi yang sering terdengar di telinga umat muslim bahwa, amal itu terputus kecuali tiga perkara: sedekah jarriyah, ilmu bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tua.
(Dimas/red)

Comments