Bangil, Dalwa Berita – Suasana khidmat dan penuh makna begitu terasa pada malam rangkaian Haul ke-2 Hubabah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan. Sejak selepas salat isya, halaman pesantren perlahan memutih, dipadati ribuan santri yang duduk bersaf rapi di bawah tenangnya langit malam.
Halaman yang semula dingin setelah diguyur hujan sore itu, seketika berubah memancarkan nuansa hangat saat pendar cahaya lampu mulai menerangi lokasi Hauliah Hubabah. Di antara sinar lampu dan semilir angin malam, keheningan pecah menjadi keindahan saat munsyid Al-Makki mulai memimpin lantunan selawat, diiringi ketukan octapad dan rebana oleh Firqah Mambaus Shoffah.

Lantunan Selawat Oleh Munsyid Al-Makki
Tak hanya gema selawat, lantunan Surah Yasin beserta tahlil yang pahalanya dikirimkan khusus untuk Hubabah juga tak kalah khidmat dalam menghidupkan suasana acara. Dalam satu irama yang sama, seluruh hadirin larut merasakan kerinduan yang mendalam kepada sahibulhaul, Hubabah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan.

Abuya Zain Memimpin Pembacaan Surah Yasin serta Tahlil
Ustaz Segaf Baharun, putra dari mendiang Hubabah, malam itu mengisahkan bahwa ibundanya merupakan sosok perempuan yang sangat paham bahwa kesempatan hidup di dunia hanya datang satu kali. Kesadaran mendalam itulah yang senantiasa mendorong beliau untuk memaksimalkan seluruh amal kebaikan semasa hayatnya.
“Beliau sangat memaksimalkan sebagai seorang anak kepada ayah ibunya, sebagai seorang saudari kepada saudara-saudaranya, sebagai seorang istri kepada suaminya, sebagai seorang ibu kepada anak-anaknya,” terang beliau.
Dalam penuturannya, Ustaz Segaf juga menceritakan bahwa mendiang Hubabah sering mengingatkan putra-putrinya bahwa tidak ada satu hal apa pun yang terjadi secara kebetulan di mata Allah SWT. Sebab, berjalannya gerak kehidupan manusia telah digariskan dengan rapi dalam skenario indah Sang Pencipta.
“Jangan pernah lari dari tantangan,” cerita beliau tentang nasehat Hubabah yang sering diulang.
Tak hanya sang putra, kesaksian berharga juga datang dari Ustaz As’ad, seorang santri sekaligus sepupu mendiang Hubabah. Beliau mengenang bahwa pada masa mudanya sebelum beliau menikah, Hubabah dikenal sebagai sosok perempuan yang gemar merangkul dan mengajak teman-temannya untuk berkumpul.
“Memang dari kecil (sebelum menikah) beliau suka organisasi,” tutur Ustaz As’ad.

Ustaz As’ad Saat Diwawancarai Tim Redaksi Dalwa Berita
Yang menarik, Hubabah memiliki satu kelebihan yang sulit ditiru oleh kebanyakan orang. Saat masalah datang menimpa, beliau begitu pandai menyembunyikan masalah tersebut rapat-rapat, seolah tanpa beban, dan masih bisa terus berbuat baik kepada sesama.
Sebagai sepupu, beliau menyaksikan bahwa hubabah merupakan sosok yang memiliki istiqomah yang sukar untuk ditiru.
“Betul-betul istiqomah khoirun min alfi karamah,” tambah beliau.
Sebagai seorang santri, Ustaz As’ad juga bersyukur karena memiliki nasab keilmuan yang menyambung langsung kepada Hubabah Khadijah dan Abuya Hasan. Berdasarkan kesaksiannya, mendiang Hubabah selalu menjadi teladan tersendiri baginya; beliau tidak hanya mengajarkan teori keilmuan di atas kertas, tetapi juga senantiasa mengamalkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.
Ustaz As’ad mengakhiri kisahnya dengan memberikan kesaksian bahwa Hubabah Khadijah merupakan perempuan berbudi luhur, berhati luas, dan berjiwa tabah. Sosoknya dinilai sangat selaras saat bersanding mendampingi perjuangan mendiang Abuya Hasan Baharun. Sebab, kemajuan yang dirasakan Pondok Pesantren Dalwa dalam segala aspek saat ini adalah buah manis dari tetesan keringat dan jerih payah Hubabah Khadijah bersama sang suami, Abuya Hasan.
(Dafa/red)

Comments