beritaEvent PondokPondok Pesantren

Haul ke-28 Abuya Hasan Baharun dan Hubabah Khadijah Ke-2, Jejak Keteladanan yang Terus Hidup di Hati Umat

0

Bangil, Dalwa Berita- Gemuruh lantunan qashidah dan shalawat menggema, menyelimuti setiap sudut Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah. Sejak Kamis pagi (23/7/2026), ribuan jemaah bersama para tamu mulai memadati kawasan pondok untuk menghadiri peringatan Haul ke-28 Muassis dan ke-2 Muassisah Ponpes Dalwa.

Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia dengan satu tujuan yang sama, yakni mengenang sekaligus memanjatkan doa untuk pendiri Ponpes Dalwa, sosok yang telah mengabdikan tenaga, pikiran, dan kehidupannya demi berdirinya serta berkembangnya Lembaga pendidikan tersebut.

Sekitar 23.000 jamaah membanjiri lapangan utama Dalwa Pusat. Tidak hanya masyarakat umum, peringatan haul ini juga dihadir sejumlah tokoh dan ulama dari berbagai daerah. Diantaraya Ketua Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq Assegaf, Lora Ismail Al-kholilie, Gus Najih bin Mbah Maimoen Zubair, Gus Idris Hamid, Gus Mufti Anam, serta paramasyaikh dan habaib lainnya yang turut hadir untuk mengenang jasa Muassis dan Muassisah Ponpes Dalwa dan memanjatkan doa bersama.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Maulid Simthud Durar, dilanjutkan dengan lantunan qasidah nabawiyah yang dibawakan oleh grup nasyid Manbaus Shofa (MBS). Suasana khidmat semakin terasa ketika para jemaah larut dalam untaian syair pujian kepada Rasulullah saw.

Tak lama berselang, iring-iringan Abuya Zain bersama para tokoh dan masyaikh mulai memasuki area utama acara.Barisan tersebut dipimpin oleh para Alawiyyin yang berjalan dengan tertib di tengah sambutan hangat ribuan jemaah. Sebelum menempati tempat yang telah disediakan, Abuya Zain beserta para tokoh terlebih dahulu berziarah ke makam sohibul haul.

Puncak suasana berlangsung saat pembacaan Mahalul Qiyam. Ribuan Jemaah berdiri dengan penuh khidmat, larut mengikuti setiap lantunan shalawat yang menggema di seluruh area acara. Keheningan yang menyelimuti sesaat itu menghadirkan suasana haru. Tak sedikit jemaah yang tampak berkaca-kaca, seolah tenggelam dalam penghayatan atas kisah dan kemuliaan Rasulullah saw.

Usai pembacaan khutbah nikah oleh Al-Habib Shodiq bin Hasan Baharun, suasana khidmat berlanjut dengan prosesi akad nikah enam pasangan mempelai yang dipimpin langsung oleh Mudirul Ma’had, Abuya Zain Baharun. Satu per satu mempelai mengucapkan ijab kabul dengan penuh ketenangan, disambut senyum bahagian dan doa dari ribuan jemaah yang turut menyaksikan momen sakral tersebut.

Suasana majelis seketika hening saat ribuan jemaah menyimak dengan penuh perhatian pembacaan manaqib Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun, sosok seorang murobbi ruh wal jasad dan kekasih beliau, Hubabah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan yang dikenal senantiasa mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi dan ta’at kepada sang suami. Manaqib tersebut dibacakan oleh cucu beliau, Al-Habib Bagir Al-Jufri.

Usai pembacaan manaqib, para jemaah kembali dibuat antusias dengan telepon yang disambungkan secara langsung melalui sambungan dari Makkah oleh Sayyid Ahmad bin Abuya Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Sambungan telepon tersebut disambut oleh Habib Alwi bin Segaf Baharun.

Dalam teleponnya, Sayyid Ahmad mengungkapkan keinginannya untuk dapat hadir secara langsung pada araca Haul tersebut. Beliau juga mengenang Abuya Hasan sebagai seorang murobbi yang memiliki hati yang besar serta semangat yang tinggi dalam menegakkan dakwah di jalan Allah Swt.

Habib Alwi Baharun menerjemahkan beberapa pesan yang disampaikan Sayyid Ahmad, diantaranya beliau mengatakan bahwa seorang tidak akan menjadi murobbi kecuali memiliki keluasan hati.

“Seorang murabbi itu tidak akan menjadi murobbi kecuali hatinya luas,” ujar Habib Alwi menukil kalam Sayyid Ahmad.

Suasana khidmat kembali menyelimuti majelis ketika Al-Habib Segaf Baharun, selaku perwakilan Yayasan Ponpes Dalwa, menyampaikan sambutannya di hadapan ribuan jemaah. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengenang salah satu nasihat Abuya Hasan tentang murid yang menjadi kebanggaannya.

“Kata Abuya Hasan, saya bangga kepada murid-murid saya bukan karena mereka pandai dakwahnya, pandai bahasa Arabnya, tidak. Tapi karena mereka itu harum akhlaknya.”

Kalimat itu disampaikan Al-Habib Segaf dengan mata berkaca-kaca. Nasihat sederhana tersebut seolah menjadi warisan berharga yang menegaskan bahwa kemuliaan seorang santri tidak hanya diukur dari keluasan ilmunya, tetapi juga dari akhlak yang menghiasi kehidupannya.

Setelah itu, sejumlah ulama dan habaib bergantian menyampaikan tausiyah di hadapan ribuan jemaah. Al-Habib Novel Alaydrus mengenang sosok Abuya Hasan sebagai probadi yang sangat dermawan, tidak pernah takut kekurangan, dan tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah Swt.

Tausiyah kemudia dilanjutkan oleh Lora Ismail Al-kholilie, cucu Syaikhona Kholil Bangkalan, dilanjutkan oleh Gus Najih bin Mbah Maimoen Zubair yang turut berbagi kenangan kebersamaannya dengan Abuya Hasan saat menuntut ilmu di Malang besama Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Pada tausiyah penutup, Al-Habib Taufiq Assegaf menyampaikan sejumlah pelajaran yang dapat diteladani dari sosok Abuya Hasan. Di hadapan ribuan jemaah, beliau mengajak seluruh hadirin untuk menaladani semangat pengabdian, keikhlasan, dan pengorbanan yang selama ini dicontohkan oleh sang Muassis.

“Yang pertama, kita harus jadi khodim tholabah [melayani santri] bukan mengkhodimi tholabah [meminta untuk dilayani]. Kedua, niat yang bener. Ketiga, siap berkorban bukan mengorbankan. Dan yang keempat, kita betul-betul jadikan nafsu kita dikalahkan [mengalahkan hawa nafsu],” ungkap beliau di hadapan para jemaah.

Empat pesan itu menjadi penutup rangkaian tausiyah. Nilai-nilai pengabdian, keikhlasan, dan perjuangan yang diwariskan sang muassis pun kembali menggema di tengah ribuan jemaah yang hadir.

Di akhir rangkaian acara, Muhammad mahpudin, alumni Ponpes Dalwa angkatan 2000-2010 asal Tangerang, Banten, turut membagikan kesannya usai menyimak pembacaan manaqib Abuya Hasan. Menurutnya banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari perjalanan hidup sang Muassis, terutama tentang keteladanan beliau dalam membimbing para santri.

“Beliau bukan hanya seorang pengajar. Beliau adalah seorang orang tua sehingga mendahulukan santri-santrinya daripada kepentingan pribadinya.”

Bagi Mahpudin, sosok Abuya Hasan bukan sekadar pendidik, melainkan teladan yang menunjukkan bahwa mendidik adalah bentuk kasih sayang dan pengabdian yang tulus.

Mahpudin juga membagikan satu nasihat Abuya Hasan yang hingga kini masih menjadi pegangan dalam hidupnya.

“Jadikan ilmumu seperti garam dan adabmu seperti tepung. Apabila kita mau bikin adonan maka tepung lebih banyak dari garam,” ujarnya kepada kru Dalwa Berita,

Nasihat itu, menurut Mahpudin, mengajarkan bahwa setinggi apa pun ilmu yang dimiliki seseorang, adab tetap harus menjadi bagian terbesar yang menghiasi kehidupannya. Aufan/red

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Launching Buku Jendela Al-Qur’an Jilid 3, Judul Baru dengan Filosofi Spiritual dari Dalwa Tahfidz

Previous article

Willie Salim bersama Ustaz Derry Sulaiman Kunjungi Ponpes Dalwa

Next article

Comments

Leave a reply