Dalwa Berita- Sesungguhnya cerita perjalanan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani dan sejarah para santri qudama’ (terdahulu) dan derap langkah mereka adalah teladan yang menarik, dalam kesungguhan berdakwah, belajar dan mengajar bagi kita muridnya, serta menjadi sumber utama kekuatan dan emosi keagamaan.
Dari kota Makkah, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani membawa obor iman, lalu menyalakannya untuk membakar perapian hati di bumi Indonesia.
Beliau melihat, dakwah yang diselimuti oleh iman dan kesungguh-sungguhan mengaji, akan menganggap mudah pada pengorbanan pengorbanan seperti berikut :
- Pengorbanan jiwa.
- Pengorbanan harta.
- Pengorbanan keluarga.
- Penderitaan, akan di anggap manis.
Perjalanan panjang yang beruntun dengan sering berkunjung ke indonesia (di masa itu), untuk menyebarkan ilmu dari bumi Makkah sampai ke Indonesia, dari satu daerah sampai ke daerah lain, dari lembah sampai ke puncaknya, telah beliau lakukan.
Sayyid Muhammad melupakan kesenangan duniawi, meninggalkan kenyamanan, berangkat dari Makkah, mengorbankan harta dan menghabiskan waktu, sehingga dari kesungguhan, keikhlasan tersebut, ketulusan itu menyentuh hati dan relung terdalam hati santri Indonesia saat itu, bahkan telah menguasai jiwa dan akal orang Indonesia.
Hati beliau hanya berharap kepada Allah. Hembusan angan angan untuk menanamkan ilmunya di Indonesia, bertiup kencang seperti badai dengan aroma mewangi yang dipenuhi dengan keberkahan.
Hembusan tersebut kemudian diterima dengan lembut oleh santri-santri lawas seperti :
- Habib Sholeh bin Ahmad bin Alaydrus
- Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad
- Habib Sholeh Habsy
- Habib Ahmad Asseggaf
- Habib Ahmad Barakwan
- Habib Idrus Bangil
- Ustadz Ihya
- Ustadz Abdul Muiz
- Dan lainnya
Mereka berangkat menuju Makkah untuk menuntaskan ilmu di sana.
Mereka menetap di sana, mereka diasuh di pondok lawas di kampung yang bernama Utaybiyah (sebelum pindah ke Rushaifah) diasuh berasaskan ketulusan iman, keikhlasan, ketekunan ibadah, dan takwa.
Dengan sebab itu para santri menyerap ilmu di seluruh waktunya dengan nyaman yang membuat murid-murid (setelahnya) masuk ke pendidikan dengan berduyun-duyun.
Dari sinilah kecintaan para santri semakin kuat terhadap sejarah figur yang mulia itu, mereka menjadikan sirah Sayyid Muhammad menjadi teladan yang baik, menjadi bahan untuk membangkitkan semangat baru dalam kehidupan umat.
Sirah itu akan membangunkan cita-cita santri, akan membakar hati dengan api semangat serta antusiasme keagamaan.
Tulisan ini bukan sekadar untuk mengetahui fakta sejarah Sayyid Muhammad atau menceritakan kisah lama, melainkan untuk menyaksikan realitas secara keseluruhan dalam bentuk aplikasinya yang praktis, yang diwujudkan secara menyeluruh dalam teladannya yang luhur, yaitu teladan pada nabi kita Muhammad ﷺ dan para Sahabat yang mulia.
Sesungguhnya keharuman sirah Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Alhasani ada dalam figur Nabi Muhammad ﷺ .
Para Alumni lawas telah menggambarkan pola fikir Sayyid Muhammad yang lurus, jalan yang tegak dan cara yang terang.
Pola fikir itu diperuntukkan bagi para santri-santri setelahnya. Dari kebaikan dan perbaikan beliau. Para guru tarbiyah dan guru pengajar bisa mewujudkannya jika mereka mengikuti pola fikir diatas.
Santri dijamin meraih kesuksesan dan kemenangan, akan mencapai harapan dengan yang lebih baik dan lebih sempurna jika mengikuti jejak langkah beliau.
Sebaliknya, santrinya atau yang setelahnya, jika kosong dari sirah ini, akan mengakibatkan bahaya serius, melahirkan akibat buruk dan dampak mengerikan bagi masyarakatnya, jika tidak mengikuti kembali kegiatan gurunya.
Santri akan bisa mengambil peradaban dari guru, bisa menjalin hubungan erat sempurna dengan nabi Muhammad ﷺ melewati guru. Guru adalah tokoh yang telah menyelesaikan pendidikan dari gurunya turun-temurun sampai pada Manusia yang sempurna, nabi kita Muhammad ﷺ.
- Tidak diambil ilmunya kecuali dari guru.
- Tidak diteladani perangainya kecuali dari guru.
- Tidak didengar ucapan kecuali dari guru.
- Tidak akan baik keadaan kita kecuali dengan apa yang memperbaiki keadaan guru.
- (Kami tutup tulisan ini dengan doa)
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, bangkitkan semangat para santri untuk memuliakan agama ini, jadikan pemimpin yang lurus, yang membawa kemuliaan untuk umat.
Pemimpin yang membangkitkan semangat di antara mereka, yang bisa menyatukan segala yang tercerai-berai, yang bisa mengibarkan bendera-bendera, yang bisa memperbaiki nasib, yang bisa menghilangkan kesusahan, memerintahkan ma’ruf, mencegah kemungkaran, mendirikan hukum-Mu, menegakkan perintah-Mu, menyebarkan keadilan-Mu.
Pemimpin yang memiliki rasa cemburu terhadap kesucian-Mu, dan menolong hamba-hamba-Mu yang beriman. Amin. Ustadz Ibnu Hajar Al-Makki/red

Comments