ArtikelKolomRedaksi

Bersyukur Menjadi Muslim Indonesia

0

Indonesia adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. Menjadi seorang Muslim yang hidup dan tumbuh di bumi Nusantara merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Di tengah hamparan perbedaan suku, bahasa, dan budaya, nilai-nilai Islam dapat tumbuh subur dan mewarnai karakter bangsa yang ramah serta bergotong royong. Namun, sebagai bangsa yang masih berkembang, Indonesia tidak luput dari berbagai persoalan sosial. Berita tentang korupsi, ketimpangan ekonomi, serta hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas masih menjadi santapan sehari-hari.

Di sinilah kedewasaan iman seorang Muslim diuji. Bagaimana kita bisa merawat rasa syukur sebagai warga negara Indonesia, di saat kita sendiri menyaksikan masih banyak ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi?

Menemukan Alasan Bersyukur di Tengah Keterbatasan

Rasa syukur seorang Muslim terhadap tanah airnya tidak boleh luntur hanya karena melihat perilaku oknum penguasa atau sistem yang belum sempurna. Jika kita menengok ke belahan dunia lain, banyak saudara seiman yang hidup di bawah intimidasi, konflik bersenjata, atau menjadi minoritas yang tertindas sehingga kesulitan untuk sekadar menampakkan identitas keislamannya.

Di Indonesia, umat Islam menikmati kebebasan beribadah yang luar biasa mewah. Suara azan berkumandang bebas lima kali sehari tanpa larangan. Masjid-masjid berdiri megah di setiap sudut kota hingga pelosok desa. Ribuan pondok pesantren dan madrasah bebas beroperasi untuk mendidik generasi muda. Ekosistem ekonomi syariah, produk halal, hingga perayaan hari besar keagamaan difasilitasi dengan sangat baik oleh negara. Kedamaian dan kemudahan dalam menjalankan syariat ini adalah modal utama yang wajib disyukuri.

Tidak Hanya Diam Saat Terjadi Ketidakadilan

Islam adalah agama yang menempatkan keadilan (‘adl) sebagai pilar tertinggi dan mengutuk keras segala bentuk kezhaliman. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi.” (HR. Muslim).

Menghadapi ketidakadilan yang ada di sekitar kita, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang apatis, pasrah, atau sekadar mengeluh. Rasa syukur menjadi warga negara Indonesia harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial. Umat Islam diajarkan untuk menjadi agen perbaikan melalui konsep amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Jika melihat ketidakadilan, seorang Muslim dituntut untuk meluruskannya sesuai kemampuan: baik dengan tindakan nyata bagi yang memiliki otoritas, dengan lisan berupa kritik yang membangun dan edukasi, atau minimal dengan doa serta penolakan di dalam hati agar diri sendiri tidak ikut terjerumus dalam lingkaran kezhaliman tersebut.

Tugas Kita: Memperbaiki dan Mengisi Kekurangan Negeri

Sebagai bagian terbesar dari bangsa ini, umat Islam memikul tanggung jawab moral yang besar. Ketika kita melihat berbagai kekurangan, kelemahan sistem, dan ketimpangan di negeri ini, sikap terbaik bukanlah mencaci-maki tanpa arah atau berniat meninggalkan tanah air. Sebaliknya, setiap kekurangan yang ada adalah panggilan tugas bagi kita untuk turun tangan memperbaikinya.

Tanah air ini ibarat sebuah bangunan besar yang belum sepenuhnya selesai. Jika ada dinding yang retak atau atap yang bocor berupa ketidakadilan, tugas kita adalah menambalnya, bukan merobohkan rumahnya. Kita dituntut untuk mengisi ruang-ruang kosong yang masih kekurangan tersebut dengan kontribusi nyata.

  • Jika hukum kita masih lemah, tugas generasi muda Muslim adalah belajar menjadi aparat penegak hukum yang jujur dan amanah.
  • Jika ekonomi umat masih tertinggal, tugas kita adalah membangun sektor-sektor usaha yang berkeadilan dan bebas dari praktik eksploitasi.

Dengan cara inilah kita mengambil peran aktif sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin di muka bumi) yang membawa misi perbaikan (ishlah).

Mewujudkan Syukur Menuju Perbaikan Bangsa

Bersyukur menjadi warga negara Indonesia di tengah karut-marut penegakan hukum berarti memilih untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Cinta tanah air atau hubbul wathan minal iman diimplementasikan dengan menjaga kedamaian bangsa, sembari terus berikhtiar memperbaiki kualitas diri dan lingkungan sekitar.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Kita bisa melawan ketidakadilan dengan cara menegakkan kejujuran di dalam rumah tangga, tidak memberi atau menerima suap dalam urusan pekerjaan, serta saling membantu antarsesama tanpa memandang latar belakang. Dengan menjaga optimisme, merawat rasa syukur, serta berkomitmen untuk terus memperbaiki dan mengisi setiap kekurangan yang ada, kita sedang memperkuat fondasi moral bangsa ini agar perlahan-lahan mampu mengikis kezhaliman dan mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik, aman, adil, dan makmur di bawah ampunan Allah SWT)

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani Figur Kesungguhan Dalam Dakwah

Previous article

Comments

Leave a reply