Kenapa Diadakan di Solo?
Setiap tahunnya, ribuan umat Muslim mengadiri hauliyah yang digelar di kompleks Masjid Ar-Riyadh Solo. Habib Alwi, putra dari Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi ini menetap di Solo dan mendirikan Masjid ar-Riyadh. Oleh karena itu, peringatan haul ayahandanya kemudia diperingati di Solo. Seiring berjalannya waktu, peringatan haul Habib Ali tersebut dikenal sebagai Haul Solo.

Suasana Hauliyah Habib Ali al-Habsyi di Masjid Riyadh, Solo.
Lalu, siapakah Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, ulama yang terkenal sebagai penyusun Maulid Habsyi?
Biografi Habib Ali Al-Habsyi
Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi lahir pada Jumat, 24 Syawal 1259 H (1839 M) di Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, Yaman, beliau merupakan putra dari Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husain bin Abdullah al-Habsyi dan Sayyidah Alawiyah binti Husain bin Ahmad al-Hadi al-Jufri.

Kota Seiwun, Hadramaut.
Bayi laki-laki tersebut kemudian diberi nama Ali bin Muhammad al-Habsyi oleh seorang ulama, as-Syekh al-Habib Abdullah bin Husain Bin Thahir, pengarang kitab Sullamut Taufiq yang banyak dipelajari di pesantren.
Sejak kecil, Habib Ali telah menunjukan kecintaannya terhadap ilmu agama. Kecerdasan dan ketekunannya pun telah tampak sejak usia dini. Pada usia tujuh tahun, beliau bersama ayahnya pindah ke kota Makkah bersama ketiga saudaranya, yaitu Abdullah, Ahmad, dan Husain.
Ketika Habib Ali berumur 11 tahun, beliau bersama sang ibu, yang dikenal sebagai seorang wanita yang salehah dan amat bijaksana, hijrah ke Seiwun untuk memperdalam ilmu Fikih dan ilmu-ilmu lainnya. Kepindahan tersebut dilakukan sesuai dengan perintah Habib Umar bi Hasan bin Abdullah Al-Haddad.
Pada usia 17 tahun, beliau kembali menuntut ilmu di Makkah selama dua tahun. Setelah kembali ke Seiwun, Habib Ali telah menjadi seorang alim yang menguasai berbagai bidang ilmu agama. Pada usia yang masih muda, beliau telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur’an dan berhasil menguasai berbagai ilmu, baik ilmu zahir dan batin.
Sejak saat itu, beliau diizinkan oleh para gurunya untuk memberikan ceramah dan pengajian di hadapan khalayak. Sehingga, dengan cepat beliau menjadi pusat perhatian dan memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majelis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Meskipun telah banyak yang mengambil manfaat dari ilmunya, semangat Habib Ali dalam menuntut ilmu tidak pernah padam. Beliau kerap berpergian ke Tarim untuk menemui para ulama, terutama gurunya, Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Attas.
Kecintaan beliau kepada sang guru tertanda dalam salah satu kisah. Suatu ketika, setelah kembali dari kampung halamannya, Habib Ali langsung melakukan perjalanan Ghufrah demi menemui Habib Abu Bakar.
Diceritakan, saat berada di rumah seorang kenala beliau, sang guru meminta tuan rumah untuk menambah hidangan sebagai bentuk penghormatan atas kedatangan Habib Ali. Namun, karena ketawadhuannya, Habib Ali berkata, “Ucapan orang saleh cukup sebagai pengganti makanan selama sebulan.”
Ungkapan tersebut mencerminkan betapa dalam cinta dan penghormatan Habib Ali kepada gurunya.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, Habib Ali menghidupkan ilmu pengetahuan dengan mengumpulkan, mengarahkan, dan mendidik para murid agar tekun menuntut ilmu.
Untuk menampung para muridnya, dibangunlah Masjid ar-Riyadh di kota Seiwun, Hadhramaut, yang kemudian dikenal sebagai Ribath Seiwun, Ribath tersebut menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di wilayah itu.
Selain sebagi pendidik, Habib Ali juga dikenal juga sebagai penulis. Karya beliau yang paling masyhur adalah Maulid Simthud Durar, sebuah untaian pujian dan kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ yang ditulis dengan penuh cinta dan adab. Karya ini menyebar luas ke berbagai penjuru dunia Islam dan hingga kini terus dibaca oleh jutaan Muslim di seluruh dunia.
Bimbingan beliau membuahkan hasil yang membahagiakan dengan menyaksikan banyak muridnya berhasil mencapai cita-cita dan kemudian menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh. Ilmu tersebut tidak hanya tersebar di daerah Hadhramaut , tetapi juga meluas ke berbagai negeri lainnya, di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.
Habib Ali wafat di kota Seiwun, Hadhramaut, pada Ahad 20 Rabiul Awal 1333 H dan Beliau meninggalkan beberapa putra yang telah memperoleh pendidikan dan bimbingn langsung darinya.
Di antara putra-putra beliau yang dikenal di Indonesia ialah putra bungsunya, Habib Alwi bin Ali al-Habsyi, pendiri Masjid ar-Riyadh di kota Solo. Beliau dikenal sebagai sosok yang berbudi perketi luhur, lemah lembut, sopan-santun, serta ramah terhadap siapa pun, terutama kaum yang lemah, fakir, miskin, yatim piatu dan sebagainya.
Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai kalangan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Habib Alwi meninggal dunia di Kota Palembang pada tanggal 20 Rabiul Awal 1373 H dan dimakamkan di Kota Solo.

Pemandangan Masjid Riyadh Solo dari atas.
Di Indonesia, haul Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi diperingati setiap 20 Rabiuts Tsani, khususnya di Kota Solo, tempat keturunan beliau melanjutkan dakwah dan perjuangannya di bumi Nusantara.
Habib Ali dikenal sebagai sosok yang lembut, penuh kasih sayang, berakhlak luhur, dan sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Dakwahnya merangkul berbagai kalangan, mulai dari para ulama hingga masyarakat umum. Banyak orang dari berbagai daerah datang untuk berguru dan mengambil berkah dari ilmunya.
Beliau menjadi simbol kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ, pelestari tradisi maulid, serta panutan dalam menyebarkan ilmu dan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ. Hingga kini, karya-karya dan keturunannya terus melanjutkan perjuangan beliau dalam menebarkan ajaran Islam yang penuh rahmat, hikmah, dan kasih sayang. Fauzan/red

Comments