Bangil, Dalwa Berita – Lembaga Bahtsul Masail El-Mufiq Darullughah Wadda’wah menggelar Haflah Ikhtitam, sekaligus pelantikan ketua dan wakil ketua baru organisasi El-Mufiq. Berlangsung di Maktabah Abuya Sayyid Muhammad, Lantai 8 Mabna Abuya Hasan, pada Selasa malam (07/01/2026).
Kegiatan ini menjadi penutup tahun ajaran, sekaligus momentum untuk menumbuhkan kembali semangat anggota El-Mufiq dan para peserta yang hadir.
“Kita ingin agar mereka termotivasi dengan penutupan ini, bukan sebagai akhir,” ujar pembina El-Mufiq Dalwa, al-Ustadz Hilmi, Malang.
Acara diawali dengan pembacaan Maulid Nabi Simtudduror yang berlangsung khidmat, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan ketua baru organisasi El-Mufiq. Pelantikan dilakukan secara simbolis oleh al-Ustadz Hilmi.
Dalam pelantikan tersebut, Muhammad Raihan asal Bogor, resmi ditetapkan sebagai ketua baru El-Mufiq. Ia diharapkan mampu mengemban amanah dengan baik, serta membawa organisasi menuju perkembangan yang signifikan.
“Al-faqir merasa sebenarnya tidak pantas, tapi mudah-mudahan ke depannya dimudahkan,” ucap Raihan dalam sambutannya.
Usai pelantikan, acara dilanjut dengan pembacaan hasil Bahtsul Masail tahunan yang telah dilaksanakan sebanyak empat kali musyawarah bulanan, disampaikan oleh ketua El-Mufiq.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, sambutan pertama disampaikan oleh al-Ustadz Hilmi yang menekankan pentingnya musyawarah bagi santri, sebagai sarana muthala’ah dan pendalaman keilmuan.
Selain itu, beliau berharap jumlah anggota El-Mufiq kedepannya semakin bertambah dan seluruh anggota dapat ikut berperan aktif dalam musyawarah.
“Tidak ngomong tidak apa-apa, yang penting hadir biar kelihatan rame,” ungkapnya.
beliau juga menyampaikan bahwa pada tahun mendatang, El-Mufiq akan menghadapi forum Bahtsul Masail se-Jawa yang dikenal dengan FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren), dengan Dalwa yang dipercaya sebagai tuan rumah.
“Pesantren yang akan ikut sekitar 50 pondok, dengan jumlah peserta kurang lebih 500 orang. Ini bisa menjadi ajang untuk memperharum nama pondok,” tegasnya.
Sambutan kedua disampaikan oleh al-Ustadz Muhammad Adlika, yang dilanjutkan dengan tausiyah oleh al-Habib Muhammad bin Yahya.
Dalam tausiyahnya, beliau menekankan urgensi musyawarah serta adab-adab yang harus dijaga oleh santri dalam bermunaqasyah.
“Tariqah kita dalam munaqasyah adalah Imam asy-Syafi’i dan Imam al-Ghazali, seperti tidak merendahkan orang lain, serta meluruskan niat, agar musyawarah menambah ilmu dan mampu memecahkan masalah,” pesannya.
(Irsyad/red)

Comments