Tepat pada tahun 2010 di Desa Lebo, kabupaten Sidoarjo. Salah seorang tokoh ulama Nahdlatul Ulama, K.H. Agoes Ali Masyhuri mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan yang menggabungkan antara kurikulum Kemenag dengan kurikulum pesantren (diniyah). Dan lembaga itu adalah Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat.
Salah satu pengasuh pesantren tersebut ialah anak sulung beliau sendiri, K.H. Aria Muhammad Ali yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah.
Namun siapa sangka, ternyata Abuya Hasan Baharun memiliki peran khusus dalam perkembangan pesantren ini. ”Pesantren Progresif Bumi Shalawat adalah salah satu dari khazanah Abuya Ustadz Hasan, ada jejak beliau di sini,” jelas K.H. Aria Muhammad Ali kepada Tim Redaksi Multaqo ketika diwawancarai pada Ahad (14/07/2025).
K.H. Aria Muhammad Ali atau yang kerap dikenal dengan Gus Aria menyatakan bahwa Abuya Hasan adalah sosok pejuang tanpa pamrih, penuh keikhlasan, dan cerdas dalam memandang masa depan. Gus Aria melihat bagaimana ang murabbi tidak ragu dalam membuka pendidikan umum, mulai dari MTs, MA, hingga perguruan tinggi. Walau saat itu fasilitas yang Abuya miliki tidak cukup memadai, tapi Abuya yakin bahwa ini sangat diperlukan bagi santri-santrinya.
Sebab itulah mengapa Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat memadukan kurikulum Kemenag dengan kurikulum pesantren, dengan tujuan mencetak generasi yang cerdas intelektual, spiritual, dan emosional.
”Itu yang kami tangkap dari Ustadz Hasan, sehingga kami membuat lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak para ustadz tapi juga bisa mencetak intelektual Islam yang siap bersaing ditempatkan di mana saja, tanpa kehilangan jati diri,” jelasnya
Selain itu, Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat juga menerapkan salah satu tradisi Ponpes Dalwa, yaitu memprioritaskan para santri.
“Tradisi Dalwa yang kami terapkan di pesantren kami adalah para santri adalah anak-anak kami, dan menjadi prioritas di atas kepentingan pribadi sekali pun.”
Gus Aria juga menyatakan bahwa pendidikan yang ditempuh di Ponpes Dalwa dalam asuhan Abuya Hasan, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap diri beliau. Seperti kemampuan untuk selalu bertahan dalam segala keadaan, cerdas membaca tanda zaman, dan mampu mengkomunikasikan setiap jejaring yang ada untuk tujuan Izzul Islām wal Muslimīn, ‘memuliakan Islam dan kaum muslimin’.
Ada salah satu nasehat Abuya yang sampai kini menjadi pegangan, Gus Aria mengungkapkan langsung nasihat itu kepada pers Dalwa Berita.
”Abuya Ustadz Hasan, banyak nasehat beliau yang membekas di hati kami. Di antara pesan beliau yang masih kami ingat adalah, ‘Semua keadaanmu niatkan untuk membuat bangga dan menyenangkan Rasulullah, mulai dari yang kecil lebih-lebih yang besar.’.”
Dan pada akhirnya, segala hal yang Gus Aria perjuangkan itu semua semata-mata hanya untuk mengharap ridho ilahi dan melanjutkan cita-cita guru beliau. Karena Gus Aria yakin bahwa sebagai anak ideologis Abuya Hasan, maka seyogyanya untuk berusaha untuk selalu menggapai cita-cita Abuya, walau dengan cara dan metode yang boleh berbeda secara dzohir tapi mempunyai nilai batin yang sama.
Tim Redaksi Multaqo.
Comments