AsrofiOpini

Ke Pesantren, Apa yang Kau Cari?

0

Sudah menjadi kesepakatan umat Islam Indonesia, bahkan segenap bangsa Indonesia bahwa pesantren adalah lembaga yang dibangun untuk memperdalam ilmu agama Islam. Sehingga tak heran, Indonesia yang terkenal dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memiliki pesantren yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Para santri yang belajar pun berasal dari latar belakang dan daerah yang berbeda. Namun, perbedaan itu tidak menjadi soal jika mempunyai niat dan tujuan yang sama, yaitu mengharap rida Allah dan rasul-Nya.

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, niat dan tujuan yang diikrarkan saat pertama kali menapakkan kaki di pesantren kian lama kian memudar. Pesantren dinilai sebagai lembaga yang terbelakang di mata masyarakat. Sebab, sarana dan prasarana yang dimilikinya kurang memadai serta sistem pendidikan yang terbilang masih tradisional. Sehingga, mau tidak mau pesantren harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman supaya tidak tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya.

Dewasa ini, banyak pesantren telah mendirikan program pendidikan formal, mulai dari tingkat dasar hingga pergururan tinggi. Melihat orang tua saat ini, mereka enggan mendaftarkan anaknya ke pesantren dengan alasan tidak ada pendidikan formal yang dapat mengimbangi. Hal inilah yang menyebabkan berubahnya niat dan tujuan awal santri saat datang ke pesantren. Banyak para santri tidak tuntas dalam menyelesaikan pendidikan di pesantren, atau biasa disebut Madrasah Diniyyah. Mereka lebih mengutamakan pendidikan formal yang ditempuh dalam rentan waktu 3 atau 4 tahun. Setelah mendapatkan ijazah, mereka pun berhenti dan mencari kesibukan di luar. Padahal, waktu sesingkat itu terkadang belum cukup untuk dikatakan seseorang itu berilmu. Belum lagi jika sering majlas dimana-mana. Beraneka ragam makanan dan minuman yang tersedia di syirkah atau kafe pun telah dicoba dan dirasa oleh santri. Ditambah lagi, seringnya ghoib dars di kelas. Jika hadir pun, mereka tidur dengan pulas, atau saat ditanya ustadz, “Kenapa tidak bawa kitab?” Spontan ia jawab, “Hilang, Ustadz.” Inilah pemandangan yang sudah tidak asing lagi kita lihat setiap harinya di pesantren.

Hal demikian perlu disadari dan menjadi bahan renungan oleh para santri. Berapa banyak rupiah yang telah orang tua keluarkan dan pikiran serta tenaga yang telah guru berikan agar santrinya mengerti tentang agama. Namun ironisnya, mereka abai akan hal itu. Mereka lebih banyak meluangkan waktu untuk bergurau dengan teman daripada menyibukkan diri dengan mutola’ah dan tilawah. Seandainya mereka mengetahui hal itu, pasti waktu yang berjalan akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

As-Syekh Abdul Fattah Abu Ghadah dalam kitabnya “Qimatu Az-Zaman ‘Inda Al-Ulama” mengatakan, beliau menukil dari Amir bin Abdu Qais, salah satu tabiin yang zuhud, bahwa ada seorang laki-laki berkata padanya, “Ajaklah aku bicara, wahai Amir.” Lalu, Amir bin Abdu Qais berkata, “Hentikan matahari dan tahanlah ia dari edarnya hingga aku bisa mengajakmu bicara. Karena sesungguhnya waktu itu bergerak, cepat berlalu dan tak pernah kembali lagi. Maka, sungguh benar-benar merugi bagi orang yang menyia-nyiakannya. Karena setiap waktu yang berjalan dapat diisi dengan amal kebaikan.”

Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya seseorang untuk memelihara waktu. Andai santri pandai dalam mengatur waktu yang dimilikinya, bukan tidak mungkin ia dapat memahami pelajaran dan menyelesaikan pendidikan di pesantren dengan mudah. Walhasil, niat dan tujuan dapat tercapai. Sehingga nanti saat terjun di masyarakat dapat mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan tetap dalam ranah mengharap rida Allah dan rasul-Nya.Asrofi/red.

Atep Abdul Rohman
Pria kelahiran Bandung yang hobi travel ke berbagai tempat menarik.

Tingkatkan Produktivitas Dosen, IAI Dalwa Adakan Workshop Manajemen OJS

Previous article

Fasilitasi Santri Membaca, Perpustakaan Dalwa Sediakan 8000 Judul Buku

Next article

Comments

Leave a reply