Multaqo

Kitab Terakhir Yang Abuya Hasan Kumpulkan

Kitab Terakhirilustrasi Yang Abuya Hasan Kumpulkan
0

Hari itu udara terasa sangat tenang, seakan-akan semuanya tampak baik-baik saja. Namun, kabar duka datang begitu saja, tanpa aba-aba. Duka yang tak pernah terlintas di benak para santri: kabar kepergian Sang Murabbi, Abuya Hasan Baharun, untuk selama-lamanya dari dunia, tepat pada tanggal 8 Shafar 1420 H atau 23 Mei 1999.

Kepergian beliau tidak meninggalkan sepeser pun harta. Tidak ada warisan berupa kemewahan duniawi. Namun Abuya meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ilmu dan karya tulis dalam bentuk kitab-kitab peninggalannya.

Salah satu kitab terakhir yang beliau kumpulkan adalah Kitab Dalil Muslim, kitab berisi doa-doa, kumpulan sholawat, serta wirid-wirid dari para salafuna sholeh. Hingga kini, kitab ini menjadi pegangan utama para santri di lingkungan pondok.

Namun di balik penyusunan kitab mulia tersebut, ada sosok-sosok yang turut serta membantu Abuya dalam prosesnya. Mereka adalah Ustaz Qoimuddin, Ustaz Hasan Bashri, dan Ustaz Shofi Asnaf. Ketiganya menjadi saksi nyata perjuangan Abuya, mengorbankan waktu demi mendampingi penyusunan kitab yang kelak menjadi warisan monumental itu.

Menariknya, dalam proses penulisan, Abuya tidak menyerahkan naskah secara utuh sekaligus. Beliau menyusunnya secara bertahap dan sistematis.

“Jadi saya dikasih dua lembar, tiga lembar ‘uktub’ yang lainnya juga begitu, nanti ditambah lagi ditambah lagi berjalan tiga orang ini,” jelas Ustaz Qoim kepada Tim Redaksi Multaqo di kediaman beliau pada Ahad (20/07/2025).

Abuya juga tidak sembarangan dalam menentukan siapa yang akan menuliskan bagian-bagian tertentu. Setiap lembar diberikan dengan penuh pertimbangan.

“Jadi beliau punya pikiran ini untuk apa, ini yang cocok untuk Ustaz Qoim, ini yang cocok ke ini,” ujar Ustad Qoim.

Tiga hari sebelum wafatnya, Abuya memberikan lembar terakhir kepada Ustaz Qoim. Sementara, penyerahan paling akhir dilakukan kepada Ustaz Shofi, hanya beberapa jam sebelum beliau wafat.

“Malem-malemnya jam 2 lewat atau jam setengah 3 begitu, beliau pakai sarung putih, kaos putih kayak biasanya, itulah pakaian beliau, sederhana sekali. Make handuk. ‘Ya shofi uktub hadza tsumma uktub du’a haml ala maktabi bukroh (Shofi tulis ini, kemudian tulis doa haml di atas meja besok pagi) hanya itu terakhir, beliau wafat,” ujar ustadz Shofi kepada Tim Redaksi Multaqo ketika diwawancarai di Mabna Abuya pada hari senin (14/07/2025).

Menjelang rampungnya penulisan, Abuya kerap menanyakan kepada Ustaz Qoim soal progresnya. Ia sudah merencanakan sebuah acara syukuran besar ketika kitab itu selesai.

“Beliau tanya ‘Ustaz Qoim intahait al-kitabah (sudah selesai tulisannya)?’, ‘la, baqi qolil Ustaz (belum, sedikit lagi Ustaz)’, ‘asri’ (cepat), ana mau selamatan besar-besaran’.”

Pada saat itu, Ustaz Qoim menyangka maksud Abuya adalah tasyakuran biasa atas rampungnya kitab. Namun kenyataannya lain.

“Sampai saya tinggal setengah sattar (baris) saja, selesai saya ini mau nulis wa aghnini, ini sudah terakhir, ini sudah mau saya serahkan, tahu-tahu ahli (istri) bilang ‘itu banyak santri, ente keluar! Banyak santri nangis, ada apa ini?’ Jadi saya keluar, ternyata sudah wafat.”

Dari kisah ini, Ustaz Shofi mengambil satu pelajaran besar tentang ketawadhu’an Abuya yang luar biasa. Abuya tak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah tokoh besar di balik karya yang sangat bermanfaat ini, hingga di akhir hayatnya.

“Apa pelajaran yang bisa diambil, tawadhu yang luar biasa, beliau tidak mau menunjukkan jati dirinya dari awal-awal kecuali mau wafat,” ujar Ustaz Shofi.

Pada akhirnya, tujuan utama dari penyusunan Kitab Dalilul Muslim bukan untuk popularitas atau pengakuan, melainkan demi kepentingan santri. Abuya ingin kitab ini menjadi bekal spiritual bagi para santri ketika kelak mereka kembali ke tengah masyarakat.

“Dalam kitab ini ada talqin, ada khutbah (Jumat), khutbah nikah, ada macam-macam, doa munasabat ‘Asyuro, maksudnya supaya kitab ini menjadi pedoman murid ketika pulang ke masyarakatnya, mereka siap untuk menjadi tokoh masyarakat,” jelas Ustaz Hasan Bashri ketika diwawancarai di Mabna Abuya pada Jum’at (04/07/2025).

Tim Redaksi Multaqo

 

 

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Lembaran Kertas yang Abuya Hasan Bawa ke Timur Tengah

Previous article

Mengantarkan Santri Memahami Ilmu Nahwu

Next article

Comments

Leave a reply