Tatkala mentari terbit ufuk timur, usai sholat subuh Abuya Hasan mengumpulkan para santri baru untuk diajarkan materi-materi dasar ilmu Nahwu. Tanpa menggunakan kitab, Abuya memaparkan pelajaran itu dengan cara yang sangat mudah dipahami, agar para santri tidak menganggap bahwa Nahwu adalah pelajaran yang sulit.
Abuya memberikan banyak sekali contoh-contoh kalimat, bahkan papan tulis saja tidak cukup untuk menampung inspirasi dan pemaparan yang Abuya ajarkan.
Dan seseorang yang ada di samping Abuya saat itu adalah Ustadz Shofi Asnaf, beliau menyatakan sendiri bahwa pelajaran Nahwu yang Abuya ajarkan itu sangat mudah dipahami.
“Ana kagum betul dengan metode Abuya, betul-betul senang. Karena ana di Pontianak pernah ikut abang ana, bukan ana yang belajar, abang ana belajar Muktashor Jiddan jamnya jam 10 malam, ana pulang sendirian dari musholla takut ya udah duduk, abang ana belajar, dengar tapi kok pusingnya belajar Nahwu, setelah ana tahu di sini begitu mudah nya,” ucap Ustadz Shofi kepada Tim Redaksi Multaqo saat diwawancarai di Mabna Abuya Hasan (14/07/2025).
Hingga pada saat itulah Ustadz Shofi menyarankan kepada Abuya agar semua contoh-contoh dan pemaparan yang beliau ajarkan itu dijadikan sebuah kitab. Ustadz Shofi merasa, bahwa ini akan sangat bermanfaat untuk generasi-generasi selanjutnya.
Dan Abuya menerima saran itu dengan baik, maka disusunlah kitab Nahwu tersebut, Abuya menamainya dengan ‘Pengantar Belajar Ilmu Nahwu’ yang saat itu masih tersusun dalam bentuk fotocopy, dengan tulisan tangan Ustadz Shofi langsung.
Di tengah kesibukan beliau yang sangat padat, hanya dengan waktu 3 hari Abuya dapat merampungkan kitab tersebut dengan 40 kaidah di dalamnya.
Di tahun 1995, datanglah rombongan mahasiswa dari 3 perguruan tinggi kepada Abuya untuk kursus bahasa Arab, dengan tujuan mengisi kekosongan waktu libur mereka selama 40 hari. Maka Abuya mengajari mereka dengan kitab Nahwu tersebut yang saat itu masih dalam bentuk fotocopy.
Subhanallah, salah seorang dosen dari rombongan tersebut ahli dalam bidang komputer, ia mengusulkan agar kitab yang sangat bermanfaat ini ditulis menggunakan komputer. Abuya dengan senang hati menerima usulan tersebut, dan sejak itulah kitab ini dicetak dengan rapi.
Tujuan Abuya menyusun kitab ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah untuk membantu para santri yang tidak pernah belajar ilmu Nahwu agar mudah memahami matan jurumiyah. Abuya memodifikasi kitab
Abuya memokuskan kepada pemahaman faedah tanpa menyibukkan santri dengan pembagian bab yang ada, karena tujuan utama abuya adalah, hanya mengantarkan siswa kepada pemahaman ilmu Nahwu.
“Gak ada abuya bilang fa’il dzhohir, fail dhomir gak ada kan. karena sifatnya untuk pengantar saja, tujuannya nanti ketika baca matan jurumiyah, ohh iyaya.”
Ustadz Shofi menyatakan, bahwa kitab ini adalah kitab yang sangat luar biasa karena kitab jurumiyah yang super sederhana dan simpel bisa disederhanakan lagi oleh Abuya, kemudian disajikan dengan bahasa Indonesia. Karena abuya ingin mereka mengerti kaidah-kaidah bahasa Arab terlebih dahulu.
“santri-santri baru di zaman Abuya sudah bisa dan berani berbicara bahasa Arab karena sudah bisa menyusun, dan Abuya tidak bikin pusing mereka dengan dzohir, mudmar, khobar mufrod, khobar ghoiru mufrod gak pakai itu.”
“coba lihat gaya bahasanya, kalau mahasiswa yang membacanya pasti dia akan mengkritik bahasanya, kenapa? Karena dia mengukur kemampuannya sendiri yang sudah mahasiswa. Tapi kitab ini kan didesain untuk anak-anak, maka bahasa yang Abuya gunakan adalah bahasa yang selevel dengannya. Inilah yang kadang-kadang dilupakan penulis kitab.”
Akhir kata, bahwa semua yang Abuya lakukan itu karena beliau sangat paham dan tahu betul kapasitas santri-santrinya. Dan merupakan salah satu cara bagaimana agar bahasa arab bisa terus hidup di Ponpes Dalwa.
Tim Redaksi Multaqo
Comments