Pada Ahad malam (17/08/2025), Ponpes Darullughah Wadda’wah menggelar tamrin muhadoroh maidaniyyah (latihan pidato di lapangan) yang bertempat di lapangan utama Pondok Dalwa. Pada malam ini juga, muhadoroh maidaniyyah untuk semester satu resmi ditutup.
Tamrin muhadoroh adalah ajang bagi para santri Darullughah Wadda’wah untuk melatih kemampuan mereka dalam berorasi di hadapan ratusan, bahkan ribuan santri lainnya. Hal ini bukan hanya menuntut santri untuk percaya diri ketika berorasi, tapi inilah yang akan melatih mereka bagaimana cara berdakwah di luar dengan baik dan penuh adab.
Bagi segelintir santri, berpidato di hadapan banyak orang memang membuat tubuh membeku dengan mulut yang hanya bisa berkomat-kamit mengingat isi pidato yang akan disampaikan. Di sinilah tamrin muhadoroh hadir sebagai solusi bagi para santri yang ingin lancar dalam berpidato di hadapan banyak orang.
“Tujuannya diadakan muhadoroh maidan ini, tak lain dan tak bukan, untuk menjadikan seorang pelajar atau santri itu, bagaimana sih nanti cara berdakwah di luar?” ucap Sayyid Bagir bin Yahya.
Muhadoroh maidaniyyah bukanlah ajang yang diisi sembarang orang, tapi di dalamnya diisi oleh perwakilan mantiqoh terbaik, setelah para santri melakukan tamrin (latihan) dari kamar ke kamar. Dan di antara mereka yang memiliki nilai tertinggi akan diberi kesempatan untuk bisa merasakan berpidato di hadapan seluruh santri Dalwa 1 dan 4.
“Tujuan diadakannya tamrin muhadoroh bainal ghurof (latihan pidato antar kamar) itu adalah cara melatih bagaimana caranya mereka yang tadinya tidak bisa berbicara di hadapan banyak orang, itu dilatihnya di kamar masing-masing. Nah, nanti di situ ada yang namanya penilaian, dan penilaian itu nanti diambil daripada yang tertinggi nilainya. Dari yang tertinggi itu, nanti akan ditampilkan di muhadoroh maidan,” ungkapnya.
Habib Bagir bin Yahya juga mengungkapkan bahwa setiap santri yang maju ke depan tidak boleh asal menyampaikan pidato, tetapi ada hal-hal yang harus diperhatikan agar bisa mendapat penilaian terbaik dari para asatidz yang dipilih untuk menjadi juri. Mulai dari isi yang disampaikan, kefasihan dalam melafalkan ayat Qur’an maupun hadis Nabi, serta dari segi pakaian dan adab dalam menyampaikan pidato.
“Itu yang diambil, pertama daripada adab yang pertama, terus dari segi pakaian, lalu ada dari kefasihan seperti dalam makhorijul huruf-nya, terus dari membawakan hadis atau ayat Qur’an secara benar.”
Para muhadir (yang menyampaikan pidato) bukan hanya disuruh maju, pidato, lalu dinilai, kemudian kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Oh tentu saja tidak. Mereka yang mendapat nilai tertinggi dalam tamrin muhadoroh maidaniyyah akan diberi hadiah oleh para asatidz untuk mengapresiasi mereka yang sudah berani unjuk gigi di hadapan para santri.
“Untuk pemberian hadiah, nanti kita nilai, mana yang paling bagus muhadoroh-nya, nanti kita ambil untuk bisa dijadikan juara,” ucap beliau.
Dan pada akhirnya, Habib Bagir hanya mengharapkan agar dari tamrin muhadoroh maidaniyyah, para santri yang sudah bisa berpidato di hadapan ribuan santri ini dapat menjadi penerus tongkat estafet dakwah Rasulullah di akhir zaman yang penuh fitnah.
“Harapannya supaya bisa mencetak generasi muda yang akan bisa bermanfaat di masa depan dan menjadi penerus tongkat estafet dakwah Rasulullah SAW,” pungkasnya.
(Nur/red)
Comments