Cerpen

Rasa Yang Hilang

0

Matahari tengah berada pada puncak takhtanya. Asap kendaraan motor membumbung, memenuhi atmosfer di kawasan ibu kota, membuat siapa pun enggan untuk berlama-lama di luar ruangan. Tapi hari ini, ku berjalan riang, menghiraukan kepulan asap juga panas yang mendera, karena pada hari ini, aku telah resmi menjadi karyawan tetap setelah melalui masa-masa magang yang melelahkan fisik juga batin. Kini semua telah terbayarkan.

“Ting.” Nada dering ponselku berbunyi. Aku kini tengah duduk di bangku panjang toko kelontong, melepas dahaga dengan minuman kaleng menyegarkan, sementara tangan kiriku sibuk meng-scroll laman Instagram, menampilkan deretan postingan orang-orang yang telah sukses menggapai impian. Di antara deretan postingan itu, tertera juga beberapa postingan temanku dulu ketika kuliah. Kini mereka telah banyak diterima di perusahaan ternama milik pemerintah. Bahkan, segelintir dari mereka ada juga yang sudah bekerja di negara lain.

Entah mengapa, ada rasa iri juga dengki merasuk dalam hati. Ambisiku untuk mengejar perkara duniawi semakin bergejolak, bagaikan kobaran api besar yang sulit dipadamkan.

Setelah isi kaleng tandas, aku kembali berjalan menuju halte, dengan mata tetap fokus ke ponsel yang masih menampilkan laman Instagram dengan reels yang menghibur.

“Dugh.”

“Eh, maaf.”
Aku masukkan handphone ke saku, lalu membantu memunguti koran-koran yang tercecer di trotoar. Beberapa lembar koran terbang ke jalanan, ada beberapa juga yang terkena genangan air, membuat koran itu basah. Setelah dibereskan, aku meminta maaf kepada anak kecil penjual koran itu.

“Ini, Dek, untuk ganti koran kamu yang rusak,” ucapku sembari menyodorkan uang dua puluh ribu.

“Eh, Kak, ini uangnya kebanyakan. Lagi pula, sedikit doang kok, gak papa,” tolak anak kecil itu. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, mungkin anak ini berumur 8–9 tahun.

“Gak, kamu terima ya. Ini buat Adek.”
Aku kembali menyodorkan uang. Ia pun menerima uangku dengan wajah bahagia.

“Makasih ya, Kak! Semoga rezeki Kakak selalu lancar.”
Anak itu membungkuk, lalu ia pun langsung berlari menghampiri teman-temannya yang juga berjualan koran. Aku tersenyum dan kembali berjalan, memasuki metromini yang berhenti di halte bus. Aku duduk di pinggir, dekat jendela.

Saat ku duduk, awan hitam datang memenuhi langit ibu kota. Dalam waktu singkat, hujan turun mengguyur Jakarta, membuat jendela metromini basah. Aku fokus memperhatikan jalan, hingga pandanganku jatuh pada anak kecil tadi yang kutabrak. Kini ia bersama dua temannya tengah berteduh di toko kecil, sembari menikmati nasi bungkus sederhana dengan canda tawa bahagia, seolah merasakan hidup tanpa adanya beban yang menjerat.

Setelah merah berganti hijau, metromini kembali melaju, mengganti pemandangan jalan ibu kota yang lenggang menjelang senja. Secara bersamaan, sebuah rasa masuk ke relung hati.

Ya, rasa ini adalah rasa yang dulu hilang, tertutup ambisi demi mengejar gengsi. Kini aku disadarkan dengan perilaku polos anak jalanan. Dengan nominal uang yang tak seberapa, mereka bisa bahagia, bahkan membagi kebahagiaan itu dengan teman seperjuangan di tengah kejamnya ibu kota.

Tanpa disadari, mataku menitikkan air mata. Ya, rasa itu kini kembali—sebuah rasa cukup atas apa yang telah Ia beri.

(Nur/red)

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Kunjungan Studi Banding Ponpes Nuhiyah Pambusuan Sulbar ke Ponpes Dalwa

Previous article

Munaqosyah Ilmiyah Bahasa Arab Dalwa: Ajang Asah Skill Bahasa Arab

Next article

Comments

Leave a reply