KolomOpiniSyahrul

Arti Milenialitas Bagi Kaum Santri

Arti Milenialitas Bagi Kaum Santri
0

Sadar maupun tidak kita telah berada di fase dimana teknologi dan gaya hidup telah menjadi kebudayaan baru di tengah perkembangan umat manusia. Generasi Y yang mewarnai era ini di sebut-sebut sebagai generasi milenial atau generasi yang mempunyai cara pandang dan berpikir unik dan inovatif. Dikutip dalam wikipedia bahwa para ahli biasanya menggunakan awal tahun 1980-an dan pertengahan tahun 1990-an maupun awal tahun 2000-an sebagai awal kelahiran generasi milenial. Perkembangan ilmu dan teknologi tentunya memiliki andil kuat dalam melahirkan generasi ini. Hal ini ditandai dengan kebanyakan aktifitas yang dilakukan kaum milenial berpatok pada perkembangan teknologi yang kian pesat.
Tentunya, akan sangat berbeda ketika kita melemparkan fokus perhatian  kepada kaum santri yang tumbuh dalam lingkungan klasik turats, kajian maupun hafalan-hafalan harian. Akan sangat sulit bagi kaum santri untuk mengikuti alur perkembangan teknologi yang menjadi arah dasar perkembangan abad ini. Beginilah image yang biasa berkembang dalam benak masyarakat.
Ericsson dalam surveynya terhadap 4000 responden mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi akan senantiasa mengikuti perkembangan gaya hidup manusia dengan kata lain manusialah yang menentukan kemana arah teknologi itu akan berkembang dan bukan sebaliknya. hal ini memungkinkan semua orang untuk menentukan kemilenialitasanya sendiri tanpa menjadikan masyarakat tertentu sebagai patokan standarisasi hidup di abad ini. Bagi para santri, milenialitas berarti mereka dapat menggabungkan antara materi pondok pesantren dengan teknologi yang berkembang sekarang. Karena memang tidak ada dikotomi atau peng-anak tirian terhadap penyandangan istilah milenial.
Ahmad Syauqi, S.hum. M.Si. salah satu dosen universitas Airlangga (UNAIR) menggungkapkan menjadi salah satu tantangan besar bagi santri milenial adalah mereka harus dapat beradaptasi di era yang serba cepat, praktis dan terkoneksi dengan internet. Dengan begitu tantangan santri di era perkembangan industri sekarang ini sangatlah kompleks. Adaptasi zaman dengan keharusan mempertahankan nilai-nilai klasikal pondok pesantren. Sebuah pertanyaan muncil di benak kita tentu saja bagaimana realisasinya?.
Seorang santri milenial tentunya harus memiliki kecakapan dalam menyongsong perubahan zaman. Tak mau kalah dengan generasi milenial yang hidup di luar lembaga pesantren maka seorang santri setidaknya harus memiliki empat bekal sebagai seorang milenial yaitu : Skill Managerial, keorganisasian, menulis atau jurnalistik dan berbicara atau Publik Speaking. Empat poin ini setidaknya dapat menjadi bekal bagi santri untuk meningkatkan nilai jualnya di era milenialitas.
Milenial bukan hanya mereka yang suka nongkrong di café sambil update story ig, bukan pula  mereka yang dapat berjualan di situs jual-beli shopee, bukan juga mereka yang bangga bisa viral di youtube dengan jumlah viewer yang banyak, tapi seorang milenial adalah mereka yang dapat membangun negeri dengan budaya bangsa dan agama sebagai jati diri yang tak selayaknya tergradasi.Syahrul/red.

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Allah Punya Rahasia Dibalik Keputusannya

Previous article

Saling Berguru Di Kampung IT Dan Ponpes Annur Solo

Next article

Comments

Leave a reply