beritaEvent PondokPondok PesantrenRedaksi

Fadhilah Puasa Asyura dan Daftar Amalan yang Dianjurkan di Tanggal 10 Muharram

0

Bulan Muharram adalah bulan yang penuh keistimewaan, di antaranya adalah dilipatkan pahala dalam beribadah dan bulan yang mustajab. Keistimewaan-keistimewaan tersebut dapat menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dengan menjalankan amalan-amalan yang dianjurkan dan kegiatan ibadah lainnya.

Banyak amalan yang diajarkan ulama-ulama kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. diantara amalan tersebut ialah berpuasa, terlebih di hari Tasu’a dan Asyura. Di bulan ini, umat Islam disunnahkan untuk banyak melaksanakan puasa. Karena puasa di bulan ini bahkan memiliki kedudukan lebih utama dibanding puasa yang lain setelah puasa Ramadhan. Sebagaimana hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan bahwa asyhurul hurum (bulan-bulan mulia) merupakan bulan-bulan yang utama untuk berpuasa setelah Ramadhan. Sementara di antara asyhurul hurum itu, bulan Muharram adalah yang paling utama, kemudian Rajab, Dzulhijah, Dzulqa’dah, Sya’ban, dan puasa ‘Arafah.

Fadhilah Puasa Asyura

Di antara yang dianjurkan dalam bulan Muharram itu ialah puasa Tasu’a dan puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Berkenaan dengan hal ini, puasa Tasu’a dan Asyura memiliki keutamaan tersendiri yang luar biasa.

Sebagaimana dilansir dari NU Online, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram akan menjadi pelebur dosa setahun yang telah lewat. Diriwayatkan:

عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR Muslim).

Jadwal Puasa Asyura 1448 H/2026

Perbedaan penetapan 1 Muharram antara Pemerintah bersama Muhammadiyah dengan organisasi NU mengakibatkan berbedanya pula penentuan kapan bisa menunaikan puasa Asyura 2026. Untuk memudahkan, berikut ini jadwal puasa Asyura 2026 versi Pemerintah dan Muhammadiyah dan juga NU yang dapat dijadikan sebagai acuan.

Pemerintah:

Apabila mengacu pada Kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan secara resmi oleh Kemenag RI, diketahui 1 Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan hari Selasa, 16 Juni 2026. Sementara itu, puasa Asyura versi pemerintah dapat dikerjakan oleh kaum muslim di tanggal 10 Muharram yang jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026 sedangkan untuk puasa Tas’ua jatuh pada tanggal 9 Muharram yang bertepatan dengan hari Rabu, 24 Juni 2026

Muhammadiyah:

Muhammadiyah juga menetapkan 1 Muharram 1448 pada hari Selasa, 16 Juni 2026.dengan begitu puasa Tasu’a (9 Muharram) juga jatuh pada hari Rabu, 24 Juni 2026 sedangkan hari Asyura (10 Muharram) jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026

Nahdlatul Ulama (NU):

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada kali ini berbeda dalam menetapkan awal bulan Muharram 1446 H. Lajnah Falakiyyah PBNU menetapkan bahwa awal Muharram jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026, dengan begitu maka hari Tasu’a menurut NU jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026 dan hari Asyura jatuh pada hari Jum’at, 26 Juni 2026

Hukum Puasa Tasu’a Asyura
Adapun hukum dari puasa Tasu’a dan Asyura ini adalah sunnah., ada sebuah hadits yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ عَاشُورَاءُ يُصَامُ قَبْلَ رَمَضَانَ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ قَالَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Artinya: “dari ‘Aisyah RA: dahulu hari Asyura adalah hari-hari yang dipergunakan orang-orang jahiliyah untuk melakukan puasa. Tatkala datang bulan Ramadhan, beliau SAW bersabda: ‘barangsiapa yang ingin berpuasa ‘Asyura hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, maka berbukalah.’” (HR Bukhari)

Sunnah Puasa Tasu’a (9 Muharram) Juga Sebagai Pembeda

Khusus puasa Tasu’a yang dilaksanakan pada 9 Muharram dan puasa 11 Muharram yang dijadikan pelengkap puasa Asyura pada 10 Muharram, adalah menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura. Diriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ (رواه أحمد)

Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dengan status marfu (Rasulullâh bersabda): ‘Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad).

Di dalam hadits yang lain Rasulullah saw juga pernah bersabda, ‘Kalau sekiranya aku hidup hingga tahun depan, niscaya aku kan puasa pada hari Sembilan (Muharram)’ pada riwayat Abu Bakar ia berkata, yakni ‘pada hari sepuluh (Muharam),”

Di akhir hayat Rasulullah saw memang suka membedakan ritual umat Islam dengan umat Yahudi. Dalam konteks ini al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan maka tingkatan puasa Asyura itu ada tiga: satu, puasa hari Asyura saja. Dua, puasa Asyura disertai puasa Tasu’a. Tiga, puasa Asyura disertai puasa Tasu’a dan puasa 11 Muharram. (Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, [Bairut, Dârul Ma’rifah: 1379 H], juz IV, h. 245-246).

Niat Puasa Hari Tasu’a

Berikut lafal niat puasa Tasu‘a.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّا سُوْعَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah swt.”

Niat Puasa Hari Asyura

Sedangkan contoh lafal niat puasa sunah Asyura sebagai berikut

. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.

Amalan Lain Di Hari Asyura

Syeikh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Najah was Surur fi al-Ad’iyyati al-Ma’tsurah allati Tasyrahu as-Shudur menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 12 amalan yang dianjurkan untuk diamalkan di tanggal 10 Muharram (Asyura), amalan tersebut ialah:

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ

صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ

وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ

Artinya: “Ada sepuluh amalan di hari Asyura, dengan tambahan dua amalan dan disebutkan mempunyai keutamaan. Puasalah, shalatlah, sambung silaturahmi, ziarahi orang alim, jenguklah (orang sakit), bercelaklah, usaplah kepala anak yatim, bersedekahlah, mandilah, tambah nafkah keluarga, potong kuku, baca surah al-Ikhlas seribu kali”

12 amalan tersebut sebagai berikut:

  1. صُمْ: (Shum): Puasa.
  2. صَلِّ: (Sholli): Shalat.
  3. صَلْ: (Shil): Menyambung silaturahmi.
  4. زُرْ عَالمِاً: (Zur ‘aaliman): Mengunjungi orang alim.
  5. عُدْ: (Ud): Menjenguk orang sakit.
  6. وَاكْتَحِلْ: (Waktahil): Memakai celak mata.
  7. رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ: (Ra’sul yatiimi imsah): Mengusap kepala anak yatim.
  8. تَصَدَّقْ: (Tashaddaq): Bersedekah.
  9. وَاغْتَسِلْ: (Waghtasil): Mandi.
  10. وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ: (Wassi’ ‘alal ‘iyali): Menambah nafkah keluarga.
  11. قَلِّمْظُفْرَا: (Qallim zhufra): Memotong kuku.

وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ: (Wa suurotal ikhlaashi qul alfa tashil): Membaca surat Al-Ikhlas 1000 kali.

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Mendorong Regenerasi Kepemimpinan, UII Dalwa Lantik Ormawa Masa Khidmah 2026-2027

Previous article

Mengintip Keseruan Bazar Muharram Ponpes Dalwa, Ditutup dengan Penampilan Mustafa Atef

Next article

Comments

Leave a reply