Bangil, Dalwa Berita – Organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (HMPS SPI) UII Dalwa menggelar kajian sejarah bersama Ustadz Fasihin, LC. pada Sabtu malam (10/10/2026) yang berlangsung di lantai dua Mabna Abuya Hasan.
Kegiatan kajian sejarah ini melanjutkan tema pertemuan sebelumnya yang membahas tentang Masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan Awal Mula Pecahnya Islam, dan Awal Mula Perang Shiffin.
Perang Shiffin terjadi pada tahun 37 H atau 657 M. Dinamakan perang Shiffin karena peperangan ini terjadi di daerah Shiffin di tepi Sungai Eufrat, wilayah yang sekarang berada di Suriah.
Kekhalifahan sayyidina Ali bin Abi Thalib merupakan periode penting dalam sejarah Islam yang ditandai dengan konflik internal, pembentukan prinsip-prinsip keadilan sosial, dan kemunculan faksi-faksi politik Islam seperti Syiah, Khawarij dan Sunni.
Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 656 M, umat Islam mengalami kekosongan kepemimpinan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib diangkat di Madinah oleh Mayoritas kaum Muhajirin dan Anshar. Namun pengangkatannya tidak diterima oleh semua pihak, terutama oleh sebagian sahabat yang menuntut balasan terhadap pembunuhan Khalifah Utsman.
Pasca pertempuran Jamal, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berupaya memulai perundingan dengan Sayyidina Mu’awiyah. Sayyidina Ali mengirim surat yang dibawa Sayyidina Jarir bin Abdullah Al-Bajali yang mengajak Sayyidina Mu’awiyah agar patuh dan bergabung bersama jama’ah yang dipimpin oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Terdengar kabar Sayyidina Ali bin Abi Thalib bergerak dari Kufah menuju Syam. Mengetahui hal itu Sayyidina Mu’awiyah berkonsultasi dengan para nasehatnya antara lain Sayyidina Amr bin Ash. Mereka menyarankan agar Sayyidina Mu’awiyah memimpin langsung perang sebagai panglima.
Di bulan Muharram 37 H. mereka melakukan gencetan senjata dengan harapan tercapainya perdamaian. Bulan Muharram berlalu, perdamainan tidak kunjung berhasil. Maka pada hari Rabu 7 Shafar 37 H. pertempuran pecah dan memakan korban sebanyak 70.000 orang. 40.000 dari Syam dan 30.000 dari Irak.
Di akhir acara, Ustadz Fasihin, Lc. menyampaikan pentingnya belajar sejarah Islam agar bisa diambil sebagai pelajaran.
“Sejarah itu sangat penting bagi kita umat Islam, karena dari sejarah itu kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga,” ujar beliau.
Arkan/red.

Comments