KolomPondok Pesantren

Keikhlasan Perjuangan Abuya Hasan Baharun

0

Dalwa Berita- “Ustadz Hasan adalah orang pertama yang membuka kembali hubungan antara Yaman dan Indonesia setelah terputus puluhan tahun lamanya dan beliau yang mulai mengirimkan santrinya untuk belajar di Yaman sehingga semua pahala orang yang belajar ke Yaman akan kembali pahalanya kepada Al-Alim Al-Allamah Adda’i Ilallah Al-Ustadz Hasan Baharun.”

Demikian penuturan Habib Umar Bin Hafidz di depan para santri dan ulama saat berziarah di Pondok Dalwa, Raci 2 tahun setelah wafatnya Abuya Habib Hasan Baharun.

Abuya Habib Hasan Baharun lahir di Sumenep pada tanggal 11 Juni 1934, beliau merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan Habib Ahmad bin Husein dengan Fathmah binti Ahmad Bachabazy.

Sedari kecil beliau telah ditanamkan kedisiplinan dan kesederhanaan oleh kedua orang tua beliau, sehingga menuntunnya tumbuh menjadi sosok pribadi yang mempunyai akhlak dan sifat yang terpuji.

Sejarah Pendidikan Abuya Hasan Baharun

Selain dari bimbingan kedua orang tuanya, beliau mendapatkan pendidikan agama dari Madrasah Makarimul Akhlaq, Sumenep dan dari kakeknya yang dikenal sebagai ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep, Ustadz Achmad bin Muhammad Bachabazy.

Setelah wafat kakeknya, beliau menimba ilmu agama dari paman-pamannya sendiri, Ustadz Utsman bin Ahmad Bachabazy dan Ustadz Umar bin Ahmad Bachabazy. Sejak kecil Abuya Hasan Baharun memang dikenal rajin dan ulet, bahkan apabila bulan Ramadhan tiba beliau belajar semalam suntuk, mulai sehabis tadarus sampai menjelang shubuh. Beliau belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama khususnya ilmu fiqih serta menjadi murid kesayangan Al-Faqih Al-Habib Umar Ba’aqil Surabaya.

Di samping pendidikan agama, beliau juga menuntut pendidikan ilmu umum mulai dari Sekolah Rakyat (SR / setingkat SD), Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 tahun dan hanya sampai di kelas 4 karena pindah dan melanjutkan ke SMEA di Surabaya.

Masa Remaja dan Pengalaman Organisasi Abuya Hasan Baharun

Sedari remaja beliau senang berorganisasi baik Remaja Masjid ataupun organisasi lainnya seperti Persatuan Pelajar Islam (PII) bahkan beliau pernah diutus untuk mengikuti Muktamar I PII se-Indonesia yang diselenggarakan di Semarang. Pernah juga menjabat sebagai Ketua Pandu Fatah al-Islam di Sumenep. Dan di Pasuruan menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia ( MUI ) sampai akhir hayat beliau.

Perjalanan dan Konsep Dakwah Abuya Hasan Baharun

Setelah menamatkan sekolah, beliau sering mengikuti ayahnya ke Masalembu untuk berda’wah sambil membawa barang dagangan. Keluarga Abuya Hasan dikenal ramah dan ringan tangan. Apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya, disuruh membayar semampunya bahkan dibebaskan. Sifat inilah yang diwarisi beliau, sehingga dalam berdagang beliau sering membebaskan orang-orang yang tidak mampu membayar.

Dalam berkeliling menjajakan dagangan, beliau juga dikenal suka membantu menyelesaikan permasalahan dan konflik yang terjadi di masyarakat serta senantiasa berusaha mendamaikan orang dan tokoh-tokoh masyarakat yang bermusuhan.

Pada tahun 1966 beliau merantau ke Pontianak untuk berda’wah dari satu desa ke desa lainnya, melewati hutan belantara yang penuh lumpur dan rawa-rawa. Dengan kesabaran, ketabahan, kearifan, dan kebijaksanaan, beliau mengenalkan dakwah Islam kepada masyarakat yang masih awam terhadap Islam. Alhamdulillah, dakwah beliau mendapat sambutan baik dari masyarakat maupun tokoh-tokoh setempat.

Di setiap daerah yang beliau masuki, beliau senantiasa bersilaturahmi terlebih dahulu kepada tokoh masyarakat dan ulama atau kyai setempat untuk memberitahu sekaligus meminta izin berdakwah. Dengan budi pekerti, akhlaq, dan sifat-sifat terpuji itulah banyak masyarakat yang simpati dan mendukung dakwah beliau.

Dalam berdakwah, beliau senantiasa membawa seperangkat pengeras suara yang saat itu masih langka di Pontianak, sehingga tidak merepotkan pihak yang mengundangnya. Beliau juga membawa satir atau tabir untuk menghindari terjadinya ikhtilat antara laki-laki dan perempuan serta perbuatan maksiat lainnya.

Berdagang beliau jadikan sebagai sarana memenuhi kebutuhan hidup sekaligus pendekatan untuk berdakwah kepada masyarakat.

Selain itu, beliau mempunyai keahlian memotret dan cuci cetak film yang digunakan sebagai daya tarik untuk mengumpulkan masyarakat. Sambil menunggu hasil cetakan selesai, waktu tersebut beliau isi dengan ceramah dan tanya jawab masalah agama.

Sekitar tahun 1970, atas permintaan dan perintah ibundanya, beliau pulang ke Madura dan diminta berdakwah di Madura atau Pulau Jawa saja. Namun, selama dua tahun beliau masih tetap aktif datang ke Pontianak untuk berdakwah walaupun telah menetap di Jawa Timur.

Pada tahun 1972 beliau mengajar di Pondok Pesantren Gondanglegi Malang dan mengembangkan Bahasa Arab, sehingga pondok tersebut pada saat itu dikenal maju dalam bidang Bahasa Arab.

Sejarah Pendirian Pondok dan Perkembangannya

Pondok Dalwa didirikan pada tahun 1981 di Bangil dengan menempati sebuah rumah kontrakan. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran, Ustadz (panggilannya saat itu) Hasan Baharun mengasuh dan mendidik para santrinya hingga mendapat kepercayaan dari masyarakat. Dalam waktu yang relatif singkat, jumlah santri pun berkembang dengan pesat.

Selain membina santri putra, pada tahun 1983 pondok ini mulai menerima santri putri yang berjumlah 16 orang. Pada tahun 1984, pemondokan santri telah menempati hingga 13 rumah kontrakan.

Atas petunjuk Musyrif (Penasehat) Ma’had Darullughah Wadda’wah, Abuya Sy. Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani, pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah dipindahkan ke Desa Raci.

Kesuksesan Ustadz Hasan Baharun dalam berdakwah dan membangun Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah tidak lepas dari peran besar seorang wanita sholihah, yaitu Syarifah Khodijah binti Muhammad Al-Hinduan, istri tercinta yang senantiasa mendampingi pahit getirnya perjuangan serta memberikan semangat kepada sang suami.

Bahkan ketika Ustadz Hasan membutuhkan dana untuk pondok, beliau dengan senang hati menjual barang-barang berharga dan seluruh perhiasan yang dimilikinya demi mendukung perjuangan tersebut.

Pada tanggal 23 Mei 1999 M bertepatan dengan 8 Shafar 1420 H, beliau berpulang ke rahmatullah. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, Ustadz Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun.

Pada tahun 2006 dibuka Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah 2 yang berlokasi di Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pondok ini menjadi bagian dari perkembangan dan perluasan pendidikan Darullughah Wadda’wah.

Hingga saat ini, Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah telah berkembang menjadi 7 pondok pesantren yang tersebar di beberapa lokasi, mencakup pendidikan bagi santri putra (banin) dan santri putri (banat).

Ikhlas

Sebagaimana sering diungkapkan oleh beliau dalam menasihati para santri dan guru, beliau senantiasa mengajarkan agar menata niat dalam setiap tindakan dan amal yang dilakukan. Hal ini merupakan cerminan kepribadian beliau yang menjadikan keikhlasan sebagai pondasi dalam setiap amaliah, termasuk dalam menjalankan pondok.

Hal pertama yang beliau perhatikan adalah keikhlasannya. Para guru baru yang mengajar di pondok diuji tingkat keikhlasannya, bahkan ada yang beliau perhatikan hingga satu tahun. Beliau berpendapat bahwa apabila seorang guru tidak ikhlas, maka ilmu yang diajarkannya pun dikhawatirkan tidak dilandasi keikhlasan.

Sumber:

  • Blogger: Biografi Habib Hasan Baharun (Pendiri Ma’had Darullughah Wadda’wah, Bangil,Pasuruan, Jawa Timur)
admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Malam Haflah Semester Satu dan Gema Maulid 1448 H di Ponpes Dalwa

Previous article

Comments

Leave a reply