FahriKolomOpini

Kemerdekaan Palestina Adalah Tanggung Jawab Bersama

0

Selama kemerdekaan belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel. “Ir. Soekarno,1962” Begitulah kutipan pidato presiden pertama Indonesia yang terekam dan terabadikan  dalam sejarah. Memori itu tengiang Kembali terpicu oleh news-tranding yang menyebutkan google hapus palestina dari google maps. Berbagai media sosial tak terkecuali Twitter juga dibanjiri dengan hastag #PALESTINE. Dukungan untuk palestina terus berdatangan dari berbagai elemen negara, instansi maupun personal. Dalam sejarahnya presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dalam sejumlah pidatonya menyerukan dukungan penuh untuk palestina.

Google adalah perusahaan yang didirikan oleh Sergey Mikhailovich Brin dan Lary Page yang notabene seorang putra keturunan Yahudi (1996) . Dalam pendiriannya perusahaan ini memang gencar dalam mengakuisisi dan mencaplok perusahaan lain. Beberapa perusahaan yang telah di caplok dan tunduk di pangkuan google adalah YouTube, Android, Motorola Mobility, Pyra Labs yang mengembangkan Blogger, serta Keyhole Inc yang melahirkan layanan Google Maps dan Google Earth. Dan kini 24 tahun berjalan google telah menjadi raksasa teknoligi yang memiliki power sangat besar.

Kembali kepada polemik Israel dan Palestina. Secara historis, Yahudi adalah kaum pendatang setelah dibantai habis oleh Hitler Nazi. Kedatangan mereka disambut baik dan tangan terbuka oleh rakyat Palestina karena menganggap kaum Yahudi sebagai kaum terdzolimi yang harus dibantu dan dilindungi. Hingga banyak dari pribumi palestina menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi mereka. Tetapi apalah daya, mereka yang dulu dibantu mati-matian, kini berkhianat dan secara terang-terangan mencaplok wilayah Palestina. Miris memang, ketika Palestina memberikan air susu, malah dibalas dengan air tuba.

Jika menarik tali sejarah, Indonesia rasanya punya hutang budi kepada palestina mengingat Kemerdekaan Indonesia yang saat ini kita rasakan tidak lepas dari pengakuan Palestina sebagai salah satu negara pertama yang mengakui kedaulatan indonesia. Ya, Palestina adalah negara pertama yang kemudian diikuti oleh Mesir. Pengakuan ini tak terlepas dari peran Syeikh Muhammad Amin Alhusaini seorang mufti, mujahid Palestina yang memiliki perhatian kepada negaranya dan negara-negara Islam tak terkecuali Indonesia.

            Sebagai Negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, tentunya Indonesia harus bisa membantu dan mengupayakan kedaulatan Palestina. Kita tahu, pemerintah Indonesia sedang mengupayakan hal terbaik bagi kemerdekaan Palestina. Tapi, kurang rasanya kalau hanya mengandalkan pemerintah sedangkan kita hanya koar-koar di media sosial, mengekspresikan keprihatinan lewat emoticon-emoticon sedih dan lain sebagainya tanpa ada aksi atau upaya-upaya solutif. Dalam sebuah diskusi, seorang teman penulis melontarkan pertanyaan,”bagaimana kita mau melangkah dengan memboikot produk-produk mereka, sedangkan hampir semua sektor mereka punya? Bagaimana dengan Unilever sebuah perusahaan multinasional yang menyediakan hampir semua kebutuhan. Apakah kita sanggup melawannya? Saya jawab dan kebetulan kemarin saya membaca topik ini di mojok.co. hehe.., memang untuk memboikot dan sama sekali tidak memakai produk-produk memanglah sulit dan terkesan mustahil, namun apabila berhasil hal tersebut akan berimplikasi kepada PHK karyawan karna penghasilan perusahaan menurun. Sehingga karyawan yang sebenarnya tidak tahu problematika ini, ikut terkena dampaknya dan akhirnya pengangguran deh. Selain itu kalau kita berpikir jauh lagi, hal ini akan berdampak bagi perekonomian Indonesia. Untuk itu yang harus kita lakukan adalah, dengan menciptakan saingan terhadap produk mereka dengan membangun ekonomi umat seperti gerakan Ayo Belanja di Warung Tetangga meskipun lebih mahal dikit misalnya dan gerakan-gerakan lain yang diharapkan keuntungannya bisa berputar untuk kemaslahatan umat itu sendiri.

            Pembangunan ekonomi umat sejauh ini sudah menujukan embrio positif. Berbagai dukungan pada pengembangan progam ini sudah mulai menjadi priotitas pemerintah seperti yang diungkapkan oleh wakil presiden Indonesia yang juga sebagai ketua umum MUI Ma`ruf amin mengatakan bahwa kita saat ini sedang ada dua gerakan. Pertama itu gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Majelis Ulama sudah mengadakan kongres di Jakarta 22 Juni yang lalu. Maksudnya apa, untuk menguatkan, mensinergikan, kemudian mengkoordinasi dan mengakselerasi, pertumbuhan gerakan ekonomi umat,” kata Ma’ruf di Royal Tulip Hotel, Jalan Pasir Angin, Gadog, Sukaraja, Bogor, Senin (7/8/2017). Kita semua berharap dengan kuatnya ekonomi umat akan memberikan power dan demage yang kuat terhadap kedholiman sebuah negara. Red/fahri.

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Corona Bawa Untung?

Previous article

Kisah Kurungan Burung Kecil

Next article

Comments

Leave a reply