berita

Sembilan Perguruan Tinggi Perkuat Tata Kelola dan Mutu Akademi Lewat Pembinaan Kelembagaan Di Ponpes Dalwa

0

Bangil, Dalwa Berita – Dalam rangka pembinaan kelembagaan dan penyerahan SK program studi, Ponpes Darullughah Wadda’wah menerima kunjungan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag, pada Kamis pagi (14/5/2026).

Acara tersebut berlangsung di Mabna Abuya Hasan Lt. 9 dan diikuti oleh sembilan perguruan tinggi yang berdomisili di wilayah Jawa Timur dan Madura. Kegiatan ini berupa pembinaan kelembagaan dan penyerahan SK program studi oleh Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag.

Berikut sembilan perguruan tinggi yang menerima izin program studi pada acata tersebut:

  1. UII Dalwa, dengan izin Program Doktor Manajemen Pendidikan Agama Islam (MPI) dan Program Magister Hukum Keluarga Islam (HKI);
  2. STIS As-Salafiyah, Pamekasan, dengan izin Program Sarjana Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI);
  3. Universitas Pangeran Diponegoro, Nganjuk, dengan izin Program Sarjana Manajemen Bisnis Syariah;
  4. STIT Al-Islah, Bondowoso, dengan izin Program Studi Sarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI);
  5. Universitas Islam Blitar, dengan izin Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI);
  6. STIDKI Al-Haqiqi, Pamekasan, dengan izin Program Studi Sarjana Manajemen Bisnis Syariah;
  7. STAI Muhammadiyah Paciran, Lamongan, dengan izin Program Studi Ekonomi Syariah;
  8. STIT Urwatul Wusqa, Jombang, Program Studi Tadris IPA;
  9. STEI Masyarakat Madani, Pamekasan, Program Sarjana Pendidikan Agama Islam (PAI).

Acara diawali dengan sambutan Direktur Pascasarjana Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah, Al-Habib Assoc. Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas dibukanya program-program studi di UII Dalwa berkat bimbingan dan arahan dari Kementerian Agama.

Beliau berharap penyerahan SK tersebut dapat menjadi bukti bahwa Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah telah mampu berdiri secara mandiri dalam berbagai bidang.

“Apapun yang menjadikan kami mandiri itu kami lakukan,” jelas beliau.

Beliau juga berharap kepada Kementerian Agama agar terus mendorong pondok-pondok pesantren yang memiliki kemampuan untuk mendirikan perguruan tinggi.

“Bagi pesantren yang layak, yang memiliki kemampuan monggo didorong agar memiliki perguruan tinggi,” ujarnya.

Kemudian acara berlanjut dengan penyampaian sambutan dan pembinaan oleh Prof. Suyitno. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa untuk menjadi kampus yang memenuhi kriteria, sebuah perguruan tinggi harus mampu mencerminkan identitas sesuai dengan penamaannya dalam berbagai aspek, mulai dari dosen, mahasiswa hingga gedung perkuliahan. Hal tersebut bertujuan agar kampus memiliki karakter yang membedakannya dari sekolah atau madrasah.

Prof. Suyitno menyampaikan bahwa sebuah kampus harus memiliki tampilan dan kualitas yang khas sebagai identitas tersendiri. Menurut beliau, kampus ideal ialah kampus yang memiliki lingkungan bersih, berwawasan ekoteologi berbasis nilai-nilai religius, serta didukung beberapa aspek menunjang lainnya.

Beliau mengatakan tolak ukur kampus yang indah bukan hanya tertelak pada kemegahan maupun gedung bertingkat.

“Untuk gedung menjadi cantik tidak mesti gedung bertingkat, bersih itu sudah cantik, meskipun mungkin satu lantai tapi dibuat bersih, teduh sudah cukup,” ujar beliau.

Beliau juga menyampaikan bahwa Kementerian Agama sedang berfokus pada lima agenda strategis mengenai perkembangan program studi.

“Kalo kita bicara terkait dengan yang tadi kami serahkan, sekarang ini dikembangkan punya lima agenda strategis, dari lima agenda strategi itu di dalamya menyangkut prodi.”

Beliau juga menyampaikan bahwa akan ada perkembangan besar-besaran pada program studi akademik keagamaan.

“Kami sedang mengembangkan pengembangan prodi besar-besaran prodi keagamaan,” ujar beliau.

Salah satu dari lima agenda strategis tersebut ialah reformulasi program studi guna meningkatkan kualitas prodi yang sudah ada.

“Kalau saat ini PTKI hanya prodi akademik, akan kita kembangkan tiga klister,” ujar Prof. Suyitno.

Dalam tiga klaster tersebut, salah satunya ialah pengembangan program studi nonakademik bebasis keagama seperti advokat syariah, perbankan syariah dan bidang profesi lainnya. Sebelumnya Kementerian Agama hanya memiliki Pendidikan Profesi Guru (PPG) PAI sebagai program profesi.

“Sudah saatnya prodi keagamaan itu mengadvokasi berbasis profesi, aelama advokat syariah itu dibuat olehh Lembaga nonpemerintah,” tegas beliau. Dhimas/Red

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Buya Yahya Bahas Hakikat Cinta dalam Diklat Cinta Season 1 di Ponpes Dalwa

Previous article

Comments

Leave a reply