Sebuah nikmat yang agung, pada hari Senin 12 Rabiul Awal, lahir sosok yang akan membawa rahmat bagi semesta alam, sosok yang diutus ke alam dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia, paunutan yang bukan mewarisi harta, tetapi ilmu yang menerangi kehidupan dunia bahkah akhirat.
Pada hari itu. Tanah yang awalnya gersang dan tandus menjadi subur dan Makmur. Pepohonan yang sebelumnya tidak pernah berbuah, ikut berbuah menjadi tanda kegembiraan atas kelahiran manusia yang kelak akan menjadi pimpinan para umat, nabi, dan rasul.
Di saat yang sama, Allah menunjukan kesucian dan keagungan-Nya. Kebenaran telah datang dan kebatilan akan segera hilang. Hal itu ditandai dengan hancurnya simbol-simbol kebatilan. Api suci sesembahan orang-orang Majusi di kuil pemujaan Persia, yang sebelumnya tidak pernah padam, tiba-tiba padam. Berhala-berhala yang kokoh di Ka’bah, Makkah, tiba-tiba roboh. Para ahli nujum meramal bahwa mereka akan mendapatkan peringatan datangnya bencana dan siksa.
Tidak hanya terjadi di kota Makkah, peristiwa menggemparkan juga terjadi di kerajaan Romawi, semua patung-patung dan simbol kesyirikan lainnya tiba-tiba hancur dan runtuh. Demikian, ketika Allah hendak memperlihatkan kebesaran-Nya.
Demikian sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang ditampakkan bersamaan pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, bulan Rabiul Awal menjadi sebuah hari yang.
Saat ini, semua kisah-kisah heroik itu telah menjadi sejarah dalam Islam yang akan terus dikenang, dan dibacakan dalam setiap perayaan-perayaan maulid nabi di bulan Rabiul Awal. Umat Islam percaya bahwa kelahirannya menjadi titik terang dari munculnya cahaya hidayah. Oleh karena itu, umat Islam beramai-ramai merayakan hari kelahirannya sebagai bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya nabi paling sempurna.
Lalu, Siapa Orang Pertama yang Memperingati Seremonial Maulid?
Para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang orang pertama yang memperingati seremonial maulid, baik dari kalangan ulama salaf (dahulu) maupun ulama khalaf (kontemporer). Namun intinya, perayaan maulid bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Islam.
Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (wafat 991 H), dalam kitabnya, Husnul Maqshid fi’Amalil Maulid, menggolongkan perayaan maulid nabi dengan praktik pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, pembacaan sirah nabawiyah, kemudian di akhiri dengan makan bersama. Imam Jalaluddin berpendapat bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan bid’ah hasanah, yang mendatangkan pahala bagi orang yang mengerjakannya sebagai tanda memuliakan nabi dan menampakan kebahagiaan atas kelahirannya.
Imam Jalaluddin as-Suyuthi di dalam kitabnya mengatakan, orang pertama yang memperingati seremonial perayaan maulid adalah Raja Mudhaffar. Salah seorang penguasa Irbil yang mulia dan agung.
Raja Mudhaffar adalah raja yang berotak cemerlang, gagah, pemberani, pandai, alim dan adil. Ia mengadakan perayaan maulid yang mulia pada bulan Rabi’ul Awwal dengan sangat besar. Bahkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga menceritakan perihal perayaan besar ini dalam kitabnya,
وَقَالَ سِبْطُ ابْنِ الْجَوْزِيِّ فِيْ مِرْآةِ الزَّمَنِ: حَكَى بَعْضُ مَنْ حَضَرَ سِمَاطَ الْمُظَفَّرِ فِيْ بَعْضِ الْمَوَالِدِ أَنَّهُ عَدَّ فِيْ ذَلِكَ السِّمَاطِ خَمْسَةَ آلَافِ رَأْسِ غَنَمٍ شَوِيٍّ وَعَشْرَةَ آلَافِ دَجَاجَةٍ وَمِائَةَ فَرَسٍ وَمِائَةَ أَلْفِ زُبْدِيَّةٍ وَثَلَاثِيْنَ أَلْفَ صَحْنِ حَلْوَى
Artinya: “Cucu Imam Ibnul Jauzi berkata didalam Mir`aatuz Zaman: “Sebagian orang yang pernah menghadiri perjamuan Raja Muzhaffar dalam beberapa Maulid, dia menghitung dalam perjamuan tersebut sebanyak 5.000 kepala kambing bakar, 10.000 ayam, seratus kuda, 100.000 roti mentega dan 30.000 piring kue.” (Imam as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawi, juz I, halaman 172).
وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ اِرْبِل الَملِكُ الْمُظَفَّر أَبُوْ سَعِيْد كُوْكْبَرِي بِنْ زَيِنِ الدِّيْنِ عَلِي اِبْنِ بَكْتَكينْ أَحَدُ الْمُلُوْكِ الْأَمْجَادِ وَالكُبَرَاءِ الْأَجْوَادِ وَكَانَ لَهُ آثَارٌ حَسَنَةٌ، وَهُوَ الَّذِي عَمَّرَ الجَامِعَ الْمُظَفَّرِي بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ
Artinya, “Orang yang pertama kali mengadakan seremonial itu (maulid nabi) adalah penguasa Irbil, yaitu Raja Mudhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Dia juga memiliki rekam jejak yang bagus. Dan, dia lah yang meneruskan pembangunan Masjid al-Mudhaffari di kaki gunung Qasiyun.” (Imam as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawi, [Beirut, Darul Fikr: 2004], juz I, halaman 182).
Selaran dengan pendapat Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Syekh Muhammad bin Ali asy-Syaukani (wafat 1250 H) dalam salah satu kitabmya mengatakan, bahwa orang pertama kali yang memperingati seremonial maulid nabi adalah Raja Mudhaffar,
وَأَجْمَعُوْا أَنَّ الْمُخْتَرِعَ لَهُ السُّلْطَانُ الْمُظَفَّر أَبُوْ سَعِيْد كُوْكْبَرِي
Artinya, “Para ulama telah sepakat bahwa yang mengadakan seremonial maulid pertama kali adalah Raja Mudhaffar Abu Said Kuukuburi.” (Imam asy-Syaukani, al-Fathur Rabbani min Fatawa Imam asy-Syaukani, [Yaman, Maktabah Jailul Jadid: tt], juz I, halaman 1087).
Berbeda dengan pendapat Imam Jalaluddin, Syekh Hasan as-Sandubi, sejawaran Islam asal Mesir, dalam kitabnya mengatakan bahwa orang yang pertama kali merayakan maulid nabi adalah Dinasti Fatimiyah. Salah satu dinasti yang dipelopori oleh Ubaid al-Mahdi. Dalam kitabnya disebutkan,
لَقَدْ دَلَّنِي البَحْثُ عَلَى أَنَّ الْفَاطِمِيِّيْنَ هُمْ أَوَّلُ مَنْ اِبْتَدَعَ فِكْرَةَ الْاِحْتِفَالِ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِي
Artinya, “Sungguh telah menjadi penunjuk kepadaku, pembahasan (di atas), bahwa sungguh Dinasti Bani Fatimah merupakan kelompok pertama yang merealisasikan gagasan perayaan untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad.” (Hasan as-Sundawi, Tarikhul Ihtifal bil Maulidin Nabawi, [Matba’ah al-
Istiqamah, cetakan pertama: 1980], halaman 60-65).
Akan tetapi, perayaan pada masa Dinasti Fatimiyah tidak hanya pada perayaan maulid nabi saja, mereka juga merayakan perayaan musiman lainnya, seperti perayaan hari kelahiran Sayyidina Ali, maulid Sayyidah Fatimah, maulid Sayyidina Hasan dan Husain, dan beberapa perayaan maulid lainnya.
Sejalan dengan perkembangan waktu, perayaan ini terus berlanjut dan semakin meriah. Melainkan, setelah runtuhnya Dinasti Fatimiyah, raja-raja dan ulama-ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah (sunni) merubah beberapa praktik yang tidak sejalan dengan syariat Islam, dan tetap mempertahankan perayaan maulid. Dan kalangan sunni hanya merayakan satu maulid saja, ialah maulid Nabi Muhammad SAW.
Perbedaan pendapat tersebut membuktkan bahwa perayaan maulid nabi sudah ada sejak dahulu. Pada akhirnya, sebab paling kuat kenapa diadakannya perayaan maulid nabi merupakan bentuk ekspresi kegembiraan dan wujud rasa syukur atas rahmat Allah SWT atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sumber:
- NU Online: Ragam Catatan Sejarah Perihal Orang Pertama yang Memperingati Maulid
- NU Jatim: Sultan Muzhaffar, Orang Pertama yang Mengadakan Seremonial Maulid Nabi SAW

Comments