Momentum Bulan Maulid (Rabiul Awwal) yang penuh berkah ini menjadi saat yang paling tepat bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam sekaligus memperkuat benteng spiritual kita.
Di tengah dinamika bangsa yang kerap diuji oleh polarisasi politik, isu ketidakadilan, korupsi, perusak lingkungan serta berbagai ancaman bencana alam yang melanda, Indonesia membutuhkan jangkar spiritual yang kokoh.
Melalui berkah bulan kelahiran Rasulullah ini, melantunkan Shalawat Asyghil hadir sebagai seruan yang sangat relevan. Kita mengetuk pintu langit berharap agar melalui berkah shalawat, segala bentuk kezaliman diangkat dari bumi pertiwi, para aktor perusak disibukkan dengan urusan mereka sendiri, serta bangsa ini dijauhkan dan dilindungi dari segala marabahaya, musibah, dan bencana alam.
Shalawat ini bukan sekadar untaian pujian, melainkan juga sebuah perisai sosial, doa tolak bala, dan refleksi kultural yang mendalam bagi kondisi sosiopolitik serta keselamatan Nusantara hari ini.
Kata “Asyghil” berasal dari bahasa Arab (asyghala) yang berarti menyibukkan atau mengalihkan. Secara garis besar, shalawat ini merupakan doa memohon perlindungan agar orang-orang yang berniat jahat atau zalim saling disibukkan dengan sesama mereka, sehingga masyarakat yang lemah, jujur, dan tidak bersalah dapat terselamatkan.
Shalawat ini disusun oleh Imam Ja’far ash-Shadiq (wafat 138 H), cucu kelima Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari jalur Sayyidina Husain. Doa ini lahir di masa transisi politik penuh pergolakan hebat antara Dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.
Saat keluarga Ahlul Bayt (keturunan Nabi) sering menjadi target kezhaliman dan intrik politik para penguasa, Imam Ja’far yang fokus pada jalur ilmu pengetahuan merumuskan doa ini. Ini adalah bentuk kepasrahan total sekaligus perlawanan spiritual, memohon agar para penguasa yang zalim saling sibuk berkonflik satu sama lain, sehingga umat dan masyarakat sipil yang tidak berdaya bisa selamat.
Doa ini kemudian tercatat rapi dalam kitab Al-Kawakibul Mudhiah karya Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan.
Di Indonesia sendiri terlebih bagi warga Nahdliyyin, shalawat ini tumbuh subur menjadi identitas perlawanan kultural dan doa keselamatan yang populer sejak zaman kolonial hingga era modern
Berikut adalah teks lengkap Shalawat Asyghil yang biasa dilantunkan secara syahdu di berbagai masjid, mushala, dan majelis taklim di Nusantara:
Teks Arab:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ، وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin, wa asyghilidz-dzalimin bidz-dzalimin, wa akhrij-naa min bainihim saalimin, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin.
Artinya:
“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka, dan limpahkanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”

Comments