Bangil, Dalwa berita– Semilir angin pada Selasa malam (21/7/2026) mengiringi langkah barisan para pengasuh dan masyayikh menuju lapangan utama Dalwa Pusat. Di tempat itulah Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Gen-8 Jam’iyyah Al-Busyro digelar, mempertemukan empat puluh santri dengan orang tua dalam satu momen penuh haru.
Di belakang rombongan pengasuh Ponpes Dalwa, Abuya Zain dan masyayikh, puluhan santri melangkah di atas permadani merah. Hamparan itu menjadi simbol penghormatan atas perjuangan panjang.
Dalam perjalanan panjang yang dipenuhi rintangan dan cobaan, mereka belajar bahwa bersahabat dengan setiap ujian adalah bagian dari proses menjaga hafalan. Kini, ayat-ayat suci itu telah menancap di hati mereka. Menjadi seorang hafiz Al-Qur’an bukan sekadar capaian, melainkan amanah sekaligus kemuliaan yang akan mereka jaga sepanjang hayat.
Pejalanan Berbuah Kemuliaan
Bertahun-tahun lamanya, mushaf Al-Qur’an menjadi teman setia dalam perjalanan Nabil Akbar menghafal setiap ayat. Santri asal Aceh itu menempuh proses yang tidak ringan hingga akhirnya menjadi salah satu santri dengan hafalan terbaik pada Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Gen-8 Jam’iyyah Al-Busyro.
Di malam wisuda, tak ada sosok orang tua yang hadir mendampinginya. Namun, keadaan itu tidak mengurangi rasa syukur maupun semangatnya. Di atas panggung, Nabil membuktikan bahwa ketekunan, doa, dan perjuangan mampu mengantarkannya meraih pencapaian yang membanggakan.

Motivasi Terbesar
Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, Nabil menjadi satu-satunya yang menempuh jalan sebagai penghafal Al-Qur’an. Ia juga menjadi satu-satunya yang memilih menimba ilmu di pesantren, meninggalkan kampung halaman di Aceh demi menjaga setiap ayat yang dihafalnya.
Baginya, hafalan 30 juz bukan sekadar pencapaian pribadi. Melainkan tersimpan harapan untuk mempersembahkan kebahagiaan dan kemuliaan kepada kedua orang tuanya.
“Motivasi terbesar itu adalah orang tua. Karena ketika kita melihat, merasakan, terus membayangkan pengorbanan orang tua disitu adalah motivasi terbesar kita, ”ujarnya
Tampil dengan Perut Kosong
Menjelang acara dimulai, Nabil mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Waktu yang ia miliki diisi dengan murojaah untuk berusaha penuh tampil dengan tenang dihadapan pengasuh dan dewan guru.
Fokusnya begitu tertuju pada ayat-ayat yang terus ia ulang hingga ia tak menyadari satu hal: perutnya belum terisi. Kesibukan menjaga hafalan membuatnya lupa menyantap makanan sebelum naik ke panggung.
Saat Di Titik Terendah
Jarak yang memisahkannya dari kampung halaman di Aceh tak pernah membuat Nabil merasa sendiri. Di setiap masa sulit, ia selalu mengingat kedua orang tuanya.
Saat rasa lelah, jenuh, dan putus asa menghampiri, percakapan singkat melalui sambungan telepon penawar. Dari balik suara yang terdengar sederhana, kedua orang tuanya selalu menguatkan langkahnya untuk kembali bangkit dan melanjutkan hafalan.
“Dulu saya pernah merasakan tidak berdaya sedikit pun. Tapi Alhamdulillah karena dorongan dan semangat orang tua sampai sekarang [saya bisa bertahan],” tuturnya.
Seutai Kata Dari Lubuk Terdalam
Ribuan kilometer membentang antara Aceh dan Bangil. Namun, jarak itu tak pernah mampu memisahkan hati seorang anak dengan kedua orang tuanya. Di balik setiap ayat yang dihafal Nabil, ada doa yang tak pernah putus dipanjatkan dari dua tempat yang berbeda.
Perasaan serupa juga disampaikan oleh Bapak Atang, perwakilan wali santri. Di hadapan para pengasuh, dewan guru, dan para tamu yang hadir, ia mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang yang akhirnya berbuah kebahagiaan.
“Ini adalah jawaban dari beribu panjatan doa dan sujud kami,” tuturnya.
Bagi Nabil, keberhasilan menghafal 30 juz Al-Qur’an bukanlah akhir dari perjalanan. Ada amanah yang harus terus dijaga, sebagaimana pesan yang selalu ditanamkan kedua orang tuanya sejak awal.
“Terima kasih buat Bunda sama Ayah yang sudah mendorong untuk menjaga Al-Qur’an di mana pun dan kapan pun,” ucapnya. Dhimas/Red

Comments