GustiawanOpini

IAI Dalwa; Gabungan 2 Elemen Pendidikan yang Berbeda

0

Kampus atau perguruan tinggi adalah suatu lembaga pendidikan yang menjadi tempat studi lanjutan setelah seorang siswa atau siswi lulus dari SMA atau SMK. Tentunya setelah lulus dari SMA atau SMK, siswa sering dibuat bingung dalam memilih studi lanjutannya, atau memilih memulai karirnya.

Di Indonesia, perguruan tinggi yang paling diminati oleh lulusan SMA adalah unversitas dan politeknik. Namun selain itu, ada juga perguruan tinggi yang disebut akademi, sekolah tinggi dan institut. Meskipun dalam wikipedia tidak terdapat referensi yang pasti tentang sejarah adanya perguruan tinggi di Indonesia, yang jelas munculnya sekolah dasar ada sejak masa penjajahan Hindia Belanda.

Selain tempat pendidikan yang bersifat formal, Indonesia juga memiliki tempat pendidikan yang juga banyak peminatnya, yaitu pesantren. Dilihat dari perbedaannya, antara pesantren dengan perguruan tinggi memiliki perbedaan yang cukup jelas. Jika pesantren condong ke pendidikan agama dan akhlak, maka perguruan tinggi condong kepada akademik, sehingga pelajar di pondok pesantren pastinya memiliki jiwa religius atau keagamaan yang kental. Lain halnya dengan perguruan tinggi yang pelajarnya sangat menjunjung nilai akademis.

Dalam menjalankan pendidikannya, pesantren selalu mengawasi serta menilai para peserta didiknya selama 24 jam penuh. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Berbeda dengan perguruan tinggi yang hanya menilai mahasiswa atau peserta didiknya di dalam lingkup kampus saja, sehingga pesantren sangat kerap dengan asrama sedangkan perguruan tinggi tidak.

Meskipun berbeda dalam pembelajaran, kedua lembaga tersebut tentunya memiliki persamaan, karena sama-sama merupakan lembaga pendidikan. Selain itu, persamaan dari keduanya adalah peserta didiknya sama-sama merupakan anak perantauan.

Adapun yang sempat terpikirkan adalah bagaimana jika perguruan tinggi dengan pesantren itu digabung atau disatukan?

Jawabannya ada di IAI Dalwa. Meskpiun merupakan pendidikan formal, institut tersebut merupakan perguruan tinggi yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah. Jadi, sebelum menjadi mahasiwa, para pendaftar wajib mendaftarkan dirinya ke Ponpes Darullughah wadda’wah ini. Jadi tak sah menjadi mahasiswa IAI Dalwa sebelum menjadi santri.

Dalam menjalankan sistem pendidikannya, Ponpes Darullughah Wadda’wah membagi waktunya menjadi 2, pendidikan diniyah dan pendidikan formal. Adapun pendidikan diniyah ditetapkan pada pagi hari, sedangkan pendidikan formal pada sore hari.

Meskipun tak sama persis dengan perguruan tinggi pada umumnya, lembaga yang satu ini menerapkan slogan “Mahasiswa Berjiwa Santri, Santri Berwawasan Mahasiswa,” sehingga tak hanya mencetak mahasiswa yang berjiwa akademis, tetapi juga berjiwa religius. Begitupula sebaliknya, tak hanya religius, santri juga memiliki wawasan mahasiswa.

Selain IAI Dalwa, ada juga perguruan tinggi yang masih di dalam naungan pondok pesantren, seperti Universitas Darussalam Gontor, IAIT Lirboyo Kediri dan lain-lain. Dalam pendidikannya, mereka menggabungkan sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan yang ada di perguruan tinggi. Hebatnya, kedua sistem tersebut tidak bertabrakan. Malah berjalan dengan lancar, sehingga mereka juga mencetak santri yang bersarjana.

Lalu kenapa santri harus menjadi mahasiswa? Bukannya hal itu menyebabkan santri tidak fokus belajar diniyah-nya?

Jawabannya juga ada di IAI Dalwa. Memang dari pengalaman saya, sangat jarang orang itu mahir dalam 2 bidang. Kebanyakan ,ya cuma satu. Seperti halnya dokter. Ia tahu ilmu medis tapi lemah dalam otomotif. Ataupun sebaliknya. Seorang mekanik mesin mahir dalam bongkar pasang mesin, tapi lemah dalam ilmu medis.

Meskipun ada manusia yang mahir dalam 2 bidang, tapi itu langka sekali. Lain halnya jika hanya sekedar bisa, karena banyak orang yang bisa dalam dua hal itu pasti ada bahkan lebih, dan ini sering atau selalu kita jumpai. Contoh saja ibu saya yang seorang guru. Selain beliau ahli berkebun, beliau juga pandai menjahit. Apalagi ayah saya. Selain memancing, ayah juga bisa memasak.

Mahir dalam dua bidang memanglah sulit, tapi bukan berarti hal itu mustahil. Adapun bukti nyata dari hal itu telah dilakukan oleh guru saya sekaligus rektor saya, Dr. Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.. Selain memiliki ilmu agama yang luas, beliau juga dikenal secara akademis. Nyatanya, beliau telah berhasil menuntaskan studi doktoralnya di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2018.

Sekarang, selain menjadi Rektor di IAI Dalwa, beliau juga sekaligus pengasuh Ponpes Darullughah Wadda’wah Banat (putri). Tentunya hal ini sangatlah sulit dicapai. Tapi sekali lagi, meskipun sulit bukan berarti mustahil. Dr. Segaf Baharun pernah berkata dalam seminarnya,

“Dalam kehidupan ada kesempatan. Dan kesempatan harus diperjuangkan, dan perjuangan memerlukan pengorbanan.”

Bagi saya, mahir dalam dua bidang tidaklah mustahil selama kita mau berusaha. Sebab, Dr. Segaf Baharun telah membuktikannya. Buktinya beliau tak hanya alim, tapi juga mahir secara akademis. Jadi tak hanya menjadi pengasuh pesantren, tapi sekaligus menjadi Rektor IAI Dalwa.

Memang apa untungnya kalau kita santri jadi mahasiswa?

Tentunya ada, dan itu juga saya dapatkan di IAI Dalwa. Sudah saya sebutkan moto dari mahasiswa IAI Dalwa, yaitu “Mahasiswa berjiwa santri, santri berwawasan mahasiswa.” Keuntungan dapat dilihat dari sini. Maksudnya, seorang mahasiswa yang berjiwa santri mestinya lebih mudah diterima di kalangan masyarakat, karena memang dari dasarnya santri dididik untuk siap terjun ke masyarakat untuk membantu mereka dalam segi agama dan sosialnya. Santri yang berwawasan mahasiswa itu lebih mudah untuk masuk ke ranah pendidikan yang lebih tinggi dan masyarakat yang lebih maju. Walhasil, kita tidak ketinggalam zaman sehingga menghilangkan kesan dari santri yang kerap dianggap kudet (kurang update).

Bisa kita simpulkan, jika mahasiswa menjadi santri atau santri menjadi mahasiswa, dampaknya dakwah bisa dapat menyeluruh. Tidak dari kalangan bawah saja, tapi juga kalangan atas. Tidak hanya kaum terpelajar, tapi juga kaum awam. Hal ini menunjukkan keseimbangan yang nyata. Tentunya banyak dari santri sarjana dari IAI Dalwa yang telah merasakan manfaatnya. Termasuk saya ini.

Bukti kongkrit juga dapat dilihat dari sosok Ustaz Dr. Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I. dalam perjalanan dakwahnya beliau tak hanya berdakwah ke kalangan awam, tapi juga kalangan terpelajar hingga kalangan pemerintah.

Saya sarankan bagi kalian mahasiswa yang belum jadi santri, jadilah santri. Bagi kalian santri yang belum jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa, sehingga kalian bisa menjadi generasi Indonesia yang tak hanya akademis, tapi juga religius. Tak hanya religius tapi juga akademis.Gustiawan/red.

admin dalwaberita.com
Media informasi dan berita terpercaya seputar Ponpes Dalwa

Kami Pers Tengah Berkhidmah, Tolong Jangan Halangi!

Previous article

Mengapa Harus Dalwa?

Next article

Comments

Leave a reply