beritaPondok PesantrenSeminarWawancara

Mengulik Citra Asli Pesantren, Habib Husein Ja’far al-Hadar Dorong Kreativitas Dakwah

0

Bangil, Dalwa Berita – Senin malam (01/06/2026) Ponpes Darullughah Wadda’wah kedatangan dua tamu istimewa, Habib Husein Ja’far al-Hadar dan Habib Fikri Abdul Qadir bin Syahab. Kehadiran beliau untuk memenuhi undangan seminar ilmiah yang digelar di Masjid Baitul Ghafar.

Acara dihadiri oleh Kepala Departemen Kesiswaan Ponpes Dalwa, Ustaz Ismail Ayyub, M.Pd., Habib Abu Bakar Assegaf, dan Habib Ahmad Ba’agil. Kedatangan Habib Husein menjadi kedua kalinya, sedangkan bagi Habib Fikri, ini menjadi yang pertama kali.

Membahas seputar pesantren, Habib Husein atau yang akrab disapa Habib Login, memaparkan citra asli pesantren sekaligus kiat-kiat untuk memajukan dan mengembangkan institusi tersebut.

Menurut beliau, pondok pesantren merupakan wadah bagi Umat Muslim untuk mengenali dan memperdalam ilmu agama. Beliau menegaskan bahwa keberadaan pesantren itu sendiri merupakan kunci keselamatan bagi umat;.

“Seminimal-minimalnya membangun dirinya dan keluarganya karena itu seminimal-minimal target dari pesantren,” ujar beliau.

Beliau mengingatkan bahwa masa mondok merupakan waktu yang paling indah dan bermanfaat. Para santri diarahkan dengan cara yang paling efektif dan paling dekat untuk mengenal sang Pencipta, mulai dari kedisiplinan dalam melaksanakan perintah-Nya hingga kekompakan dalam hal kebaikan.

“Dan pesantren mengajarkan satu jalan yang menuju Allah paling efektif dan paling dekat dalam ilmu tasawuf yaitu apa, riyadhoh atau latihan.”

“Percayalah, bahwa tidak ada waktu yang lebih bermanfaat, yang lebih indah, yang lebih mempesona dari waktu kita ketika menjadi santri,” tegas beliau.

Banyak hal yang membuat pesantren berbeda dengan fasilitas menuntut ilmu lainnya. Dalam penuturan beliau, satu hal yang jarang disadari oleh orang di luar pesantren adalah kesadaran dan keberkahan. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari pesantren.

“Ada satu hal yang tidak ada di luar dan menjadi ciri khas pesantren yaitu keberkahan,” ungkap beliau.

Selain itu, beliau juga menyatakan bahwa pesantren yang dapat berkembang dan memiliki kesan baik di mata masyarakat adalah pesantren yang memiliki kreativitas dalam metode dakwah. Bahkan beliau mengatakan bahwa pesantren yang mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan zamannya dapat menghilangkan citra negatif pondok.

Beliau juga menegaskan bahwa citra negatif pesantren tersebut disebabkan oleh oknum-oknum yang tidak profesional dalam mengelola pesantren. Hal inilah yang memicu timbulnya krisis kepercayaan terhadap pesantren.

“Oh iya, sekarang kan ada semacam krisis kepercayaan terhadap pesantren karena banyaknya oknum-oknum dari pesantren-pesantren yang tidak profesional,” jelas beliau saat wawancara.

Oleh karena itu, menurut beliau, aspek paling penting dalam dakwah di lingkup pesantren adalah hikmah.

“Disini kita diajarkan satu aspek yang paling penting dari dakwah itu sendiri. Apa itu, kata Al-Quran, ud’u ila sabili rabbika bil hikmah.”

Dari beberapa makna hikmah yang beliau tuturkan, kreativitas dalam membungkus dakwah pesantren sangat diperlukan. Bukan sekedar kualitas santri, kuantitas pun harus seimbang untuk menghadapi tantangan zaman.

Menyikapi hal tersebut, beliau menjadikan Dalwa sebagai percontohan, karena bangunan bahkan santrinya telah mencerminkan bentuk kreativitas.

“Dan disini antum diajarkan kreativitas atau hikmah itu sendiri, bukan dengan kata-kata tapi dengan contoh,” ungkap beliau.

“Seperti yang disampaikan Abuya Zein tadi bahwa, keterbukaan Dalwa terhadap saran dan kritik itu yang menyebabkan Dalwa terus berkembang,” jelas beliau saat diwawancarai oleh Dalwa Berita.

Kemudian pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Habib Fikri bin Syahab yang merupakan salah seorang yang tergabung di salah satu perusahaan satelit di Amerika Serikat.

Dalam pemaparannya Habib Fikri memaparkan mengenai tantangan zaman yang semakin sulit dipredikasi. Oleh karena itu, santri harus sigap dan tanggap. Beliau pun menekankan pentingnya santri untuk belajar di berbagai bidang ilmu.

Sebagai percontohan, keberadaan AI saat ini tidak bisa lepas dari dunia teknologi. Di situlah, santri di tuntut untuk mengisi konten-konten media sosial dengan nilai-nilai keagamaan.

“Belajar bagaimana AI itu dikembangkan sehingga kita bisa mewarnai teknologi tersebut denga isi konten yang bersifat keagamaan,” pesan beliau.

Dan beliau berharap, ”Inilah (Dalwa) mungkin mejadi role model untuk pesantren yang ada di Indonesia.” (Dhimas/red)

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Sate Nusantara Usai, Pengasuh Ponpes Dalwa Rekatkan Kedekatan Dengan Makan Bersama Ratusan Mudhohi

Previous article

Comments

Leave a reply