GustiawanKolomOpini

Kita Orang Muslim Wajib Berjiwa Nasionalis

0

“Hubbul wathon minal iman”

“Cinta tanah air adalah bagian dari pada iman.” Itulah yang diserukan oleh pemuda Laskar Hizbullah ketika perang berkecamuk di Kota Pahlawan, Kota Surabaya. Itu menjadi salah satu contoh bahwa umat Islam wajib memiliki jiwa nasionalisme.

Islam agama yang sempurna. Di dalamnya mengajarkan ketertiban, aturan dan undang-undang. Mulai dari hal terkecil hingga yang terbesar. Mulai dari etika bangun tidur hingga membangun sebuah parlemen, bahkan dalam berjihad membela tanah air pun juga dibahas di dalam Islam.

Indonesia negeri yang padat dengan 1.000 lebih suku bangsa, enam agama dan beragam adat istiadat bersatu dalam ikatan Bineka Tunggal Ika dan dilandaskan dengan Pancasila dan UUD 1945. Tentunya, dalam memperjuangkan kemerdekaan, persatuan keberagaman itu menjadi awal kebangkitan dalam melawan penjajahan.

350 tahun lebih Indonesia berjuang melawan penjajah demi mengibarkan bendera pusaka, mengangkat kepalan tangan ke langit seraya meneriakkan kata “Merdeka, Allahu Akbar”. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita mempelajari dan mengambil hikmah dari kisah panjang perjuangan mereka.

Kita sebagai pemuda muslim wajib menghormati pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan. Menghormati mereka dengan menjaga kemerdekaan, persatuan, meneladani sifat luhur mereka dan lain-lain.

Sebagai pemuda muslim, salahsatu hikmah yang bisa kita ambil adalah membela tanah air. Tentunya dengan tidak meninggalkan syariat. Bahkan, atas nama Islam rahmatan lil alamin serta perikemanusiaan, wajib bagi kaum muslim untuk berjihad melawan kedzoliman penjajah.

Dikisahkan bahwasanya Panglima Jendral Soedirman tidak pernah lepas dari wudhunya ketika berjihad memperjuangkan tanah air. Dengan kondisi kesehatan yang parah pula beliau masih menjaga sholat 5 waktunya, bahkan dalam gerilya.

Di saat berperang, air sulit didapat. Bahkan di waktu yang genting itu beliau berusaha untuk berwudhu sehingga digunakannyalah air embun untuk berwudhu.

Dikisahkan juga bagaimana sosok KH. Samanhudi, salah satu pendiri Serikat Dagang Islam yang menggunakan keilmuan syariat dan kebijaksanaannya dalam mengayomi rakyat Indonesia yang tertekan secara ekonomi.

Kala itu bangsa Cina yang bergandengan dengan Belanda menyiksa rakyat pribumi dengan ekonominya. Yang berkuasa tambah kaya dan mewah, sedangkan pribumi sendiri semakin miskin dan melarat. Namun, dengan adanya Serikat tersebut, bangsa pribumi dapat melangkah keluar dari keterpurukan. Masih banyak lagi kisah heroik pahlawan muslim pejuang kemerdekaan yang menjunjung tinggi tanah airnya.

Coba kita lihat kembali, bagaimana pemuda santri di bawah bendera Merah Putih yang berjuang setelah proklamasi. Agresi militer Belanda dan Inggris yang hendak mencabut kemerdekaan dari NKRI mereka lawan sampai mati.

Ultimatum keras mantan penjajah yang hendak memborbardir Surabaya dari udara, laut dan darat tidak membuat gemetar apalagi ketakutan. Panggilan jihad langsung dikumandangkan. Atas nama syariat, persatuan dan kemerdekaan mereka berkumpul, mengangkat kembali senjata.

Dengan kalimat tauhid mereka berangkat, berjuang melawan kolonial. Mati tak menjadi masalah karena syahid pun bisa menjadi tujuan. Mereka tinggalkan anak dan istri demi negeri. Merdeka atau mati.

Islam tidak mencegah kita untuk membela tanah air. Bahkan syariat Islam sendirilah yang menganjurkan, bahkan mewajibkan kita untuk berjihad melawan penjajahan, seperti yang dicontohkan oleh pahlawan kebanggaan kita, Hubbul wathon minal iman.

Rasul pun juga memberikan contoh mengenai hal itu. Diriwayatkan dari sahabat Anas, bahwasanya Nabi saw. ketika kembali dari bepergian dan melihat dinding-dinding Madinah, beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.

Sudah selesai perjuangan mereka. Sekarang adalah giliran kita untuk membela tanah air kita sendiri. Haram hukumnya jika kita acuh kepada kebobrokan bangsa sendiri. Sudah saatnya kita bangkit dan berjuang, karena tak mungkin juga kita menunggu bantuan tangan dari negara lain.

Tidakkah cukup bagi kita untuk bersedih ketika Timor Leste berpisah dari kesatuan kita. Bukankah sudah cukup bagi kita untuk angkat suara ketika komunis ingin kembali merusak Sila Pertama dari dasar negara kita.

Sudah saatnya kita membuka mata dan peduli dengan bangsa kita sendiri. Kita pemuda muslim wajib menjaga NKRI, baik itu budayanya, kekayaan alamnya atau wilayahnya. Jangan sampai kita terpecah lagi. Jangan pula kita sampai dijajah lagi. Sudah cukup, sejarah penjajahan waktu itu kita sampan di dalam buku sejarah. Berharap menjadi pembelajaran bagi generasi kita dan generasi selanjutnya.Gustiawan/red.

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Kembali Rayakan Asyura’ dengan Menyantuni 500 Lebih Santri Yatim Piatu

Previous article

Intip Rapat Persiapan Multaqo Ke-11 Al-Hasaniyyah Ponpes Dalwa

Next article

Comments

Leave a reply