AsrofiOpini

Santri dan Problematika Kehidupannya

0

“Apa sih enaknya di pesantren? Kalau lulus pesantren juga, paling nganggur dan masa depannya gak jelas,” kata salah seorang ibu saat melihat penulis berangkat ke pondok pesantren di salah satu sudut kota Provinsi Jawa Timur.

Begitulah pernyataan yang sering dijumpai kebanyakan santri saat pulang ke kampung halamannya. Berbagai celaan dan hinaan tidak menyenangkan kerap kali dilontarkan kepada santri, seolah mereka tidak berhak memiliki masa depan yang cerah. Kata-kata tak sedap itu muncul dari berbagai latar belakang yang berbeda, mulai dari tingkat ekonomi kelas rendah hingga kelas elit turut memberikan pernyataan serupa. Apa yang salah dengan santri? Apakah santri tak layak memiliki masa depan yang gemilang dengan melewati jalur pesantren? Bukankah santri itu pewaris ilmu dari seorang utusan Allah yang menjadi teladan bagi semua orang, bahkan dunia?  Lalu, mengapa mereka menganggap masa depan santri tidak jelas?

Dari permasalahan di atas, tentu dapat menjadikan santri ragu dan bimbang untuk meneruskan pendidikan pesantrennya hingga tahap sempurna. Lulus. Tak heran, sebagian santri memutuskan untuk berhenti di tengah perjalanan menuntut ilmunya, lalu mencari pekerjaan di luar pesantren. Akibat dari itu, kehidupan mereka akan berbalik 180 derajat daripada saat mereka menjadi santri, mulai dari yang biasanya rutin baca wirid dan mutala’ah kitab, hingga kini lebih sering bekerja seharian penuh demi menghasilkan pundi-pundi rupiah. Lantas, bagaimana dengan tugas mulia yang pernah diembannya dulu? Bukankah ia telah mengikrarkan dirinya untuk menjadi penyambung lisan nabi dalam menyebarkan dakwah Islam?

Menanggapi hal tersebut, seharusnya setiap santri perlu untuk memperhatikan dirinya agar tidak terlalu gegabah dalam mengambil setiap keputusan. Hendaknya ia bermusyawarah dengan keluarga atau orang terdekat dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan yang menerpa. Ia juga harus senantiasa meminta petunjuk dari Allah swt. lewat pintu-pintu langit yang selalu terbuka di sepertiga malam.

Memang, menjadi seorang santri tidaklah mudah. Terlebih, hambatan dan rintangan yang siap menghadang di depan jalan membuat seseorang terkadang bingung dengan jalan yang telah dipilihnya. Namun, perlu diketahui, kesulitan menimba ilmu juga pernah dirasakan Nabi Musa saat berguru kepada Nabi Khidir a.s.. Allah swt. berfirman :

لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا
“… sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” ( QS Al-Kahf: 62 )

Untuk mengantisipasi tanggapan buruk masyarakat tentang pesantren, dewasa ini telah banyak bermunculan pondok pesantren yang memiliki perguruan tinggi sendiri. Pondok pesantren juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berwawasan luas dan berkepribadian Islam yang paripurna melalui perguruan tinggi. Diharapkan dengan ini, santri yang sekaligus merangkap sebagai mahasiswa mampu berpikir panjang, memiliki imajinasi yang tak terbatas, dan berjiwa agamis guna menjawab berbagai tantangan zaman yang memerlukan banyak kreativitas. Melalui perguruan tinggi yang berkualitas, diharapkan santri dapat ikut serta dalam mewujudkan Indonesia Emas yang tangguh dan berdaya saing pada tahun 2045 nanti.

Sejak krisis global, pandemi Covid-19 mengakibatkan peningkatan angka pengangguran tertinggi di usia produktif. Ditambah lagi, loncatan teknologi yang terjadi saat ini mengubah pola berperilaku dan komunikasi manusia di era ini. Meskipun begitu, seorang mahasiswa yang berjiwa santri tidak boleh mengabaikan perkembangan teknologi tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ia harus dapat mengambil sisi positif dari perkembangan teknologi tersebut, seperti halnya berdakwah melalui sosial media yang kini banyak digandrungi para dai kawula muda.

Adapun keunggulan seorang santri yang menjadi mahasiswa adalah dakwah yang ia jalani akan menyebar dengan mudah. Tak hanya terbatas di kampung halaman, tetapi bisa masuk ke ranah para pemangku jabatan pemerintahan. Di samping mudah tersebar, dakwah ini juga dapat menjadi pedoman mereka untuk selalu instropeksi diri dalam menjalankan tugasnya di roda pemerintahan agar tidak menyimpang dari syariat dan peraturan yang berlaku. Dengan perguruan tinggi berbasis pesantren ini, diharapkan mampu mengubah mindset atau pola pikir masyarakat tentang pondok pesantren. Hal ini dibuktikan dengan pesantren yang dulu diidentikkan dengan pilihan terakhir siswa yang tidak diterima di sekolah negeri maupun perguruan tinggi. Namun, kini pesantren mulai kebanjiran santri, bahkan menjadi opsi prioritas. Semoga eksistensi pesantren dapat menjadi solusi kebutuhan umat atas berbagai problematika global pendidikan masyarakat atau umat Islam yang sedang dilanda fitnah akhir zaman.Asrofi/red.

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Mengapa Harus Dalwa?

Previous article

Fotografi

Next article

Comments

Leave a reply