AsrofiCerpenKolom

Pesan Menjelang Liburan

0

Liburan sudah di depan mata. Hanya tinggal menghitung jari saja. Momen yang dinanti-nantikan oleh setiap santri setelah sekian lama mendekam di asrama pesantren akan segera tiba. Terdengar hiruk pikuk di sepanjang koridor seputar agenda liburan yang akan dilakukan nantinya. Mulai dari mendaki gunung, berwisata ke pantai, hingga maraton film yang belum sempat ditonton. Namun, di tengah euforia tentang liburan, ada seorang santri berdiri di pinggir pagar masjid. Melempar pandangannya ke arah persawahan yang membentang luas di luar area pesantren. Dia termenung, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Hei!!, melamun saja. Ada apa, Mas?,” kata Riyan membuyarkan lamunan Dimas.

“Kamu, Yan… Nggak apa-apa. Cuma mikirin masalah kecil,” jawab Dimas.

“Omong-omong.. Nanti liburan punya agenda kemana, Mas? Hiking? Beach?,” tanya Riyan.

“Entahlah, Yan. Aku bingung,” jawab Dimas kebingungan.

“Yaelah, Mas. Bingung kenapa?! Liburan itu waktunya rehat malah dibuat pusing. Santai saja kali kayak yang lain,” bantah Riyan.

Dimas berbalik arah menghadap Riyan. Matanya menatap tajam. Seperti ada suatu hal yang hendak ia sampaikan. Riyan merasa Dimas berbohong dengan ucapannya tadi, dilihat dari situasinya, ia tahu bahwa sahabatnya kini dilanda masalah besar. Riyan harus berhati-hati dalam bersikap. Jika tidak, kejadian tempo hari akan terulang kembali. Ia membuat Dimas kecewa karena telah mengkhianati janji untuk mengajarinya ilmu faroid. Tapi, karena keasyikan ngobrol ngalor-ngidol bersama temannya, Ia lupa. Akibatnya, keesokan hari ketika disuruh ustaz mengerjakan ilmu warisan itu, Dimas gelagapan tidak bisa menjawab. Sebagai hukuman, Dimas harus berdiri sepanjang jam pelajaran. “Ah… lupakan tentang faroid, kali ini Aku tidak  akan mengecewakan sahabatku lagi,” begitu pikirnya.

“Kamu tahu kan kita kelas berapa sekarang ?,” tanya Dimas memulai pembicaraan yang sempat menghening sesaat.

“ Tahu. 1 Aly,” balas Riyan enteng.

“Kamu ingat sudah berapa tahun kamu di pesantren?,” tanya Dimas kembali.

“Jalan 5 tahun,” sahut Riyan polos.

“Sudah selama itu, apa saja yang sudah kamu berikan pada pesantren? pada keluarga bahkan masyarakat?,” ujar Dimas dengan tatapan serius dan nada tegas.

Riyan terdiam. Ia mencoba memutar kembali memori otaknya tentang sumbangsih apa saja yang telah ia berikan. Namun, ternyata hasilnya nihil. Tidak ditemukan sesuatu pun yang berharga yang dapat menjadi bukti sanggahan kepada Dimas.  Ia sadar selama ini, ia gunakan waktu menuntut ilmu hanya sekedar gurauan dan main-main yang tak ada manfaatnya. Berkumpul bersama kawan siang-malam tanpa ada kaitan dengan tujuan ia berada di pesantren. Sekedar menelaah kitab saja jarang. Jangankan dibuka, disentuh pun enggan. Beruntung khusus pelajaran faroid, Ia dapat menguasainya dengan baik. Bisa dikatakan ia cukup mahir dalam bidang ini. Padahal dibutuhkan ketelitian tinggi dalam menghitung saat mempelajarinya. Salah satu alasannya terletak pada kepiawaian ustaz Ihsan, pengajar ilmu faroid. Beliau selalu punya cara unik dan efektif untuk menggaet para santrinya. Terlebih pada santri yang tingkat kemalasannya sudah akut seperti, Riyan. Beliau sulap menjadi anak yang gemar menghitung.

“Mereka semua menunggu kita, Yan. Mereka butuh bimbingan kita,” ungkap Dimas.

“Inget, gak, kata ustaz Najih di kelas. Seorang santri dipilih oleh Allah sebagai pewaris Rasulullah saw.. Rasulullah tidak mewariskan harta yang melimpah, melainkan mewariskan ilmu kepada umatnya. Sedikit ilmu yang penting bermanfaat. Manfaatnya ilmu dengan diamalkan dan diajarkan bukan malah dipendam. Percuma bagi seseorang yang mempunyai ilmu banyak tapi sedikit pun tak diamalkan,” tambah Dimas berusaha meyakinkan.

Riyan mendengarkan dengan seksama. Ia renungi tiap kalimat yang keluar lewat lisan Dimas. Hatinya perlahan mulai terketuk. Seberkas cahaya mulai muncul dari celah-celah relung hati yang semula tertutup.

“Juga, ketika liburan Ramadan kemarin, saat kamu berkunjung ke rumahku pagi hari. Ibu marah kepada kita habis-habisan, karena seharian main game online ,tanpa ada waktu untuk tadarus Al Quran. Shalat jamaah pun kadang-kadang bolong. Luapan emosi Ibu terus memuncak sampai Ibu bilang “Jadi ini hasilnya pulang dari pesantren??!!”. Waktu itu aku sangat merasa bersalah padanya,” kata Dimas meratapi penyesalannya.

Tak terasa butiran air mulai menetes dari kedua mata Riyan. Ingatan itu masih terasa segar di benaknya. Sebagai seorang anak ia merasa sangat tidak berguna. Menyia-nyiakan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Terlebih ibunya. Andai ibunya sendiri mengetahui kelakuan putra kesayangannya itu. Pasti dia sangat kecewa.

“Maka dari itu, Yan. Kita siapkan diri kita menjelang liburan tahun ini. Kita gunakan sebagai ajang penerapan ilmu yang telah kita pelajari selama di pesantren.  Dimulai dari hal yang paling penting, tentunya kepada Allah swt.  Kita perbaiki shalat kita, usahakan selalu berjamaah. Lalu kepada keluarga, misalnya membantu menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Jangan berpangku tangan terus-menerus kepada orang tua. Selebihnya, pada masyarakat, seperti aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan: gotong royong, tahlilan, dan maulidan. Pokoknya dimana pun kita berada, selalu menebar manfaat dan kebaikan kepada sesama,” jelas Dimas.

“Kamu benar, Mas. Selama ini aku selalu memperlihatkan kegagalanku pada kedua orang tuaku. Aku abai pada nasihat-nasihatnya. Baiklah, kita planning kegiatan kita, buat yang paling berkesan,” Riyan menyeringai.

“Tunggu.. sebelum menyusun rencana, kamu bersedia kan mengajari aku faroid lagi. Hitung-hitung Qadha yang kemarin,” pinta Dimas.

“Ok. Gas lah,” ucap Riyan sambil mengepalkan tangannya ke udara.Asrofi/red.

admin dalwaberita.com
Media Informasi dan Berita Terpercaya Seputar Ponpes Dalwa

Wujudkan Cita-Cita Abuya Hasan Baharun, IAI Dalwa Lahirkan Doktor Baru

Previous article

Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Mahasiswa IAI Dalwa Laksanakan KKN di Purwosari

Next article

Comments

Leave a reply